Bahkan, warga yang memiliki balita memilih mengalah mengungsi sementara karena merasa iba dengan kondisi anak yang ikut gatal-gatal hingga harus dibedaki.
"Sudah gatal terus ke meja kasur pokoknya seluruh rumah kena, kemarin tidak bisa jemur baju juga saking parahnya," kritik Saerah.
Warga lainnya Murod juga menyampaikan keluhannya, ia rela menghabiskan berkotak-kotak bedak untuk mengusir gatal di badannya.
"Merasakan gatal-gatal sampai sekarang, bahkan saya sudah habis bedak 5 kotak terasa gatal baru kita kasih bedak lagi. Gatal panas kadang kita garuk-garuk, kalau tidak mampu pakai tangan pakai sisir kita untuk garuk-garuk," akunya.
Murod mengungkapkan, harapan akan kepedulian dari pihak perusahaan atas dampak yang dirasakan masyarakat seolah meredup.
"Sudah pernah mengadu cuma ya sebatas menanggapi saja tidak ada responnya," tandasnya.
Informasi lainnya, kisaran April 2021, silam PT Agro Utama Indonesia sudah menimbulkan polemik yakni diduga melakukan pembuangan limbah air ke lahan milik warga bernama Marsidi sehingga tidak bisa ditanami. (Hdk)