BANDARLAMPUNG – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat inflasi bulanan (month-to-
month/m-to-m) sebesar 0,82 persen pada Mei 2026.
Lonjakan harga sejumlah komoditas pangan, terutama cabai merah, menjadi faktor utama pendorong
kenaikan indeks harga konsumen di daerah tersebut.
Statistisi Ahli Muda BPS Lampung M. Sabiel Adi Prakasa mengatakan kelompok makanan, minuman, dan
tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi pada Mei 2026.
Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 1,56 persen dengan andil 0,53 persen terhadap inflasi umum.
Selain itu, kelompok Transportasi mencatat inflasi 0,94 persen dengan kontribusi 0,10 persen,
sedangkan kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga mengalami inflasi 0,63
persen dengan andil 0,08 persen.
“Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan di Lampung
pada Mei 2026,” ujar Sabiel.
Secara komoditas, cabai merah menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,15 persen. Disusul
bawang merah sebesar 0,10 persen, cabai rawit 0,06 persen, tomat 0,06 persen, dan minyak goreng
0,06 persen.
Di sisi lain, beberapa komoditas turut menahan laju inflasi. Telur ayam ras menjadi penyumbang deflasi
terbesar dengan andil minus 0,07 persen. Kemudian shampo, bawang putih, dan kangkung masing-
masing memberikan andil deflasi minus 0,02 persen, sedangkan emas perhiasan menyumbang deflasi
minus 0,01 persen.
Secara tahunan (year-on-year/y-on-y), inflasi Lampung pada Mei 2026 tercatat sebesar 1,94 persen.
Angka ini meningkat dibandingkan April 2026 yang sebesar 0,53 persen, namun masih lebih rendah
dibandingkan Mei 2025 yang mencapai 2,12 persen.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan tertinggi terjadi pada kelompok Perawatan Pribadi
dan Jasa Lainnya sebesar 9,25 persen dengan andil 0,59 persen.
Meski demikian, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau tetap menjadi kontributor terbesar
inflasi tahunan dengan tingkat inflasi 4,89 persen dan andil 1,64 persen.
Sementara itu, kelompok Pendidikan mengalami deflasi terdalam secara tahunan sebesar 17,97 persen
dengan andil minus 1,19 persen.
Untuk komoditas penyumbang inflasi tahunan, emas perhiasan menempati posisi teratas dengan andil
0,45 persen. Berikutnya daging ayam ras sebesar 0,23 persen, beras 0,20 persen, minyak goreng 0,16
persen, dan cabai rawit 0,15 persen.
