BANDAR LAMPUNG — Kunjungan Kerja Spesifik Komisi X DPR RI ke Provinsi Lampung pada Kamis (16/4) menjadi momentum penting untuk mengevaluasi pelaksanaan tes kemampuan akademik (TKA).
Dalam pertemuan yang digelar di ruang rapat utama gubernur, sejumlah catatan krusial mengemuka, mulai capaian partisipasi hingga efektivitas sistem asesmen pendidikan.
Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih menyampaikan bahwa secara umum partisipasi pelaksanaan TKA di Lampung tergolong tinggi, mencapai 84 persen. Namun, hasil yang diperoleh masih belum menggembirakan.
“Kalau partisipasi bagus, Lampung 84 persen. Tapi hasilnya memang masih perlu menjadi evaluasi bersama, karena capaian yang berada di kisaran 10 sampai 14 persen ini belum optimal,” ujarnya.
Menurutnya, evaluasi ini akan menjadi bahan penting bagi Komisi X DPR RI yang saat ini tengah membahas revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), khususnya terkait guru, dosen, kurikulum, hingga sistem evaluasi pendidikan.
Fikri menyoroti kecenderungan sistem pendidikan di Indonesia yang masih berorientasi pada tes. Kondisi ini dinilai memicu ketergantungan siswa pada bimbingan belajar (bimbel), alih-alih memperkuat peran satuan pendidikan.
“Pendidikan kita ini terlalu bergantung pada tes, sehingga bukan sekolah yang jadi pusat, tapi justru bimbel,” kritiknya.
Selain itu, sejumlah persoalan lain juga mencuat dalam evaluasi TKA di Lampung. Di antaranya, pelaksanaan tes yang disebut bersifat opsional namun dalam praktiknya terasa wajib, serta masih adanya kesenjangan sumber daya manusia dan fasilitas antara wilayah perkotaan dan pedesaan.
Tak hanya itu, TKA juga dinilai belum sepenuhnya mengakomodasi potensi daerah dan belum mampu memetakan aspek pendidikan karakter siswa secara komprehensif.
“Tes ini belum terlalu ramah terhadap potensi daerah dan belum bisa mengungkap pendidikan karakter,” tambahnya.
Meski demikian, Fikri mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Lampung yang tidak terjebak pada hasil semata, tetapi fokus pada perbaikan berkelanjutan.
Salah satu terobosan yang diapresiasi adalah penggunaan sistem computer assisted test (CAT) dalam pelaksanaan TKA.
