Ia menjelaskan, sejumlah sektor pekerjaan di Jepang memiliki persyaratan khusus, seperti tidak buta warna, tidak memiliki riwayat patah tulang, serta memenuhi standar tinggi badan tertentu.
Selain seleksi kesehatan dan fisik, peserta juga akan mengikuti pembelajaran bahasa Jepang secara intensif. Jika sebelumnya pembelajaran hanya diberikan dua kali dalam sepekan sebagai kegiatan ekstrakurikuler, kini peserta akan belajar setiap hari selama empat hingga lima bulan sebelum diberangkatkan.
"Yang benar-benar ingin bekerja ke Jepang harus fokus belajar bahasa Jepang setiap hari. Jadi persiapannya jauh lebih matang dibanding sebelumnya," katanya.
Thomas menambahkan, proses sosialisasi untuk angkatan kedua saat ini sedang berlangsung. Sementara itu, hasil assessment angkatan pertama telah selesai dan peserta tinggal mengikuti tahapan lanjutan.
Sebanyak 193 lulusan SMK telah lolos screening tahap awal dan akan mengikuti screening tahap kedua sebelum menjalani pelatihan pemantapan di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) selama dua bulan.
"Mereka sudah selesai screening tahap awal dan dalam satu hingga dua bulan ke depan masuk LPK untuk pemantapan. Targetnya sekitar dua sampai tiga bulan lagi mereka bisa diberangkatkan ke Jepang," pungkasnya. (pemprov/c1/abd)
