Winarti juga menyinggung masih adanya korban Kudatuli yang hingga kini belum diketahui keberadaannya. Menurut dia, keluarga korban masih menanti kepastian dan terus mengenang anggota keluarganya yang hilang sejak peristiwa tersebut.
"Jangan pernah takut untuk menyampaikan pendapat. Kami bersama mahasiswa. PDI Perjuangan akan terus membuka ruang bagi penyampaian aspirasi yang bertujuan membangun Lampung maupun Indonesia," katanya.
Ia juga memberikan apresiasi kepada para aktivis perempuan yang terlibat dalam perjuangan reformasi di Lampung, termasuk Nur Hasanah dan sejumlah aktivis mahasiswa lainnya. Menurutnya, kontribusi mereka merupakan bagian dari sejarah demokrasi yang patut dikenang.
Selain itu, Winarti meminta seluruh anggota Fraksi PDI Perjuangan di DPRD agar selalu membuka ruang dialog dengan mahasiswa maupun masyarakat. Menurutnya, wakil rakyat harus siap mendengar setiap aspirasi yang disampaikan publik.
"Jika mahasiswa datang ke DPRD, Fraksi PDI Perjuangan harus menerima dan berdialog. Demokrasi hanya akan tumbuh apabila komunikasi dan ruang diskusi tetap terbuka," ujarnya.
Ia menilai generasi muda memiliki peran strategis sebagai penjaga kualitas demokrasi karena masih memiliki idealisme dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Mengakhiri sambutannya, Winarti mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga persatuan di tengah perbedaan pandangan. Menurutnya, keberagaman pendapat merupakan hal yang wajar dalam demokrasi, namun tidak boleh menjadi alasan untuk saling terpecah.
"Kita boleh berbeda pandangan dan berdiskusi, tetapi tujuan akhirnya tetap sama, yaitu mewujudkan Indonesia, khususnya Lampung, yang lebih maju dan sejahtera. Jangan sampai kepentingan pribadi memecah persatuan," tegasnya.
Peristiwa Kerusuhan 27 Juli 1996 atau Kudatuli merupakan penyerbuan terhadap Kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, pada 27 Juli 1996.
Saat itu, kantor tersebut ditempati pendukung Megawati Soekarnoputri yang menolak hasil Kongres Medan yang menetapkan Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI.
Penyerbuan yang melibatkan aparat keamanan dan massa pendukung kubu Soerjadi memicu bentrokan serta kerusuhan di sejumlah wilayah Jakarta. Peristiwa itu mengakibatkan korban jiwa, korban luka, penangkapan, hingga sejumlah orang dilaporkan hilang.
Hingga kini, sejumlah pihak, termasuk pegiat hak asasi manusia, masih menilai ada berbagai aspek dari peristiwa tersebut yang belum sepenuhnya terungkap. Kudatuli pun dikenang sebagai salah satu peristiwa yang ikut mendorong lahirnya gelombang Reformasi 1998 dan perubahan sistem demokrasi di Indonesia. (*)
