Seminar PPTQ Assahil Siapkan Santri Masa Depan yang Berilmu, Berjiwa Pemimpin, dan Berwawasan Kebangsaan

gambar-user/nz7Q72NpcwwYBAywk3yFKLgNe3YikANiO7u46H2h.jpg
Taufik Wijaya - Senin, 27 Jul 2026 - 14:57 WIB
Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an (PPTQ) Assahil menggelar seminar bertajuk
Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an (PPTQ) Assahil menggelar seminar bertajuk "Menjadi Santri Masa Depan: Menyatukan Ilmu, Nasionalisme, Relasi, dan Jiwa Kepemimpinan" pada Sabtu (26/7/2026). - Foto Ist.

Follow Us:

Google News Radar Lampung Radar Lampung WhatsApp Channel
Advertisements

LAMPUNG TIMUR – Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an (PPTQ) Assahil menggelar seminar bertajuk "Menjadi Santri Masa Depan: Menyatukan Ilmu, Nasionalisme, Relasi, dan Jiwa Kepemimpinan" pada Sabtu (26/7/2026). 
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan karakter bagi para santri agar mampu menjadi generasi yang unggul dalam ilmu, berakhlak mulia, memiliki semangat kebangsaan, serta siap menjadi pemimpin di masa depan.
Seminar dihadiri Direktur Litbang, Dr. H. Abdurrochman, M.Ed., Kasi PAPKI H. Ahmad Tsauban, S.Ag., para kakak pengabdian, dewan guru, serta seluruh keluarga besar PPTQ Assahil.
Mengawali kegiatan, Pimpinan PPTQ Assahil, Muhammad Latif Mukti, Lc., M.A., atau yang akrab disapa Gus Latif, menyambut seluruh peserta dengan penuh kehangatan. 
Dalam pemaparannya, Gus Latif menekankan bahwa kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh keluasan ilmu yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan membangun hubungan yang baik dengan sesama.
"Terkadang kita tidak hanya dilihat dari apa yang kita ketahui, tetapi juga dari siapa yang kita kenal. Karena perjalanan hidup kita tidak lepas dari relasi yang kita bangun," ujarnya.
Menurutnya, ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan silaturahmi, akhlak yang baik, dan kemampuan berkolaborasi agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
"Jangan hanya menjadi pribadi yang memiliki isi, tetapi tidak memiliki relasi. Ilmu harus berjalan bersama dengan silaturahmi dan akhlak yang baik," tambahnya.
Gus Latif juga mengingatkan para santri akan sabda Rasulullah SAW: "Agama adalah nasihat."
Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa seorang santri harus memiliki kepedulian sosial, gemar saling menasihati dalam kebaikan, serta menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, narasumber Gus AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal) mengajak para santri memahami besarnya peran santri dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Menurutnya, perjalanan bangsa tidak dapat dipisahkan dari kontribusi para ulama dan santri yang berjuang dengan ilmu, akhlak, dan pengabdian.
"Santri memiliki jejak perjuangan yang luar biasa. Sejarah Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran santri, karena perjuangan para santri telah menjadi bagian dari perjalanan bangsa ini," ungkapnya.
Ia mengingatkan bahwa santri harus mampu membaca perkembangan zaman, memahami kebutuhan masyarakat, dan menghadirkan solusi yang bermanfaat.
Gus Wal juga menegaskan bahwa ketulusan dalam mengabdi kepada guru merupakan salah satu fondasi utama keberhasilan seorang santri.
"Santri yang mengabdi kepada kiai dengan tulus, insya Allah akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan dunia maupun akhirat," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, ia mengutip firman Allah SWT: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara." (QS. Al-Hujurat: 10)
Ayat tersebut, menurutnya, menjadi landasan penting bagi santri untuk menjaga ukhuwah Islamiyah, saling menghormati, serta memperkuat persatuan dalam keberagaman.
Gus Wal juga mendorong para santri agar bangga dengan identitasnya sebagai santri dan memiliki mental kepemimpinan sejak dini.

"Banggalah menjadi santri. Apa pun profesi kalian nanti, tanamkan dalam diri bahwa kalian harus menjadi pemimpin yang membawa manfaat bagi masyarakat," pesannya.
Ia menambahkan bahwa setiap tantangan hendaknya dipandang sebagai peluang untuk menghadirkan kemaslahatan. "Bangun mental kalian dari sekarang. Jadikan setiap masalah menjadi maslahat," tegasnya.
Melalui seminar ini, PPTQ Assahil menegaskan komitmennya dalam membentuk santri yang tidak hanya unggul dalam hafalan Al-Qur'an dan penguasaan ilmu agama, tetapi juga memiliki wawasan kebangsaan, kemampuan membangun jejaring, kepemimpinan, serta kesiapan berkontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Dalam sesi penutup, Gus Wal mengajak seluruh santri untuk menjadi generasi yang membawa nilai-nilai Islam yang rahmatan lil 'alamin, menjunjung tinggi persatuan, menghargai keberagaman, serta menciptakan lingkungan pesantren yang aman, damai, ramah, dan bebas dari segala bentuk perundungan maupun kekerasan.
Semangat tersebut diwujudkan melalui komitmen bersama untuk menjadikan PPTQ Assahil sebagai pesantren yang melahirkan generasi berakhlak mulia, cinta tanah air, menghormati perbedaan, serta siap mengabdi bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan. (*)

Share:
Editor: Taufik Wijaya
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements
Yamaha

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements