Syaiful Mahrum - Selasa, 28 Jul 2026 - 21:17 WIB
(Dari Kiri) Pedro Acosta (37) dan Marc Marquez (93) saat bersaing di lintasan MotoGP.
(Dari Kiri) Pedro Acosta (37) dan Marc Marquez (93) saat bersaing di lintasan MotoGP. - Foto Twitter Race Result @result_race

Follow Us:

Google News Radar Lampung Radar Lampung WhatsApp Channel
Advertisements

BANDARLAMPUNG - Kepindahan Pedro Acosta ke tim pabrikan Ducati Lenovo pada MotoGP 2027 menandai babak baru persaingan di kelas utama. Berduet dengan sang kolektor tujuh gelar juara dunia, Marc Marquez, Si Hiu dari Mazarron tidak hanya membawa ambisi besar, tetapi juga memikul tekanan maha berat.
Di balik megahnya paket impian Borgo Panigale dan regulasi anyar 850cc, ancaman terbesar Acosta bukanlah adaptasi mesin semata, melainkan risiko ‘tersesat’ akibat tingginya ekspektasi dan gempuran informasi.
Ekspektasi besar dari para penggemar Ducati kini tertuju pada Pedro Acosta. Pembalap berjuluk ‘Si Hiu dari Mazarron’ tersebut dipastikan akan menjadi rekan satu tim Marc Marquez di tim pabrikan Ducati Lenovo pada MotoGP 2027. Acosta pun berambisi tampil kompetitif dengan mengendarai motor yang setara dengan sang juara dunia tujuh kali kelas utama.
​Pada musim 2027, tim pabrikan asal Borgo Panigale itu diyakini bakal memiliki paket lengkap: kombinasi antara megabintang berpengalaman dan talenta muda paling bersinar di grid MotoGP.
​Acosta sebelumnya telah membuktikan bahwa ia sanggup bersaing ketat dengan Marc Marquez. Mengendarai motor yang sama pada 2027 bisa menjadikannya ancaman nyata, meski hal itu sangat bergantung pada arah pengembangan performa motor oleh Ducati.
​Bergabung dengan Ducati jelas merupakan langkah impian bagi Acosta. Namun, ia harus beradaptasi cepat dengan lingkungan, tim, serta karakter motor baru. Perubahan regulasi mesin menjadi 850cc pada 2027 pun dipastikan menambah daftar tantangannya.
​Antusiasme terhadap pembalap berusia 22 tahun ini tergolong sangat tinggi. Calon kepala kru Ducati untuk Acosta, Cristian Gabarrini, bahkan sudah menyamakan potensinya dengan legenda MotoGP, Casey Stoner. Banyak pihak juga meyakininya sebagai calon juara dunia masa depan.
Namun di balik kehebohan tersebut, pengamat MotoGP Peter Bom melontarkan peringatan melalui Podcast Oxley Bom MotoGP. Ia menilai Acosta sangat rentan untuk ‘tersesat’ (lost direction) jika tidak dikelola dengan tepat.
​Performa Acosta pada musim 2026 dinilai tidak terlalu fantastis. Hal inilah yang mendorong Manajer Tim Red Bull KTM, Aki Ajo, menerapkan pendekatan khusus dalam memberikan informasi teknis demi meredam rasa frustrasi sang pembalap muda.
​Motor KTM RC16 edisi 2026 terbukti mengecewakan Acosta dari segi tenaga murni (pure power). Ekspektasi publik yang membandingkannya dengan para legenda MotoGP juga dapat mengganggu fokusnya. Beruntung, Aki Ajo berhasil menjaga kondisi mental sang pembalap.
Ajo sengaja tidak pernah mengungkapkan secara blak-blakan jika motor yang dikendarai Acosta baru mencapai performa ‘80 persen’. Metode ini membatasi luapan data yang berlebihan, agar Acosta tidak tertekan dan tetap berada pada kondisi mental terbaik. 


​Pola pendekatan Aki Ajo di KTM dinilai mutlak harus diadopsi oleh Ducati. Meski kedatangan Acosta disambut antusias, ia tetap membutuhkan proses adaptasi. Overload data dan umpan balik berlebihan terkait motor baru justru bisa berakibat fatal baginya. Tantangan Acosta di garasi Ducati tergolong berat.

​Mampukah Pedro Acosta dengan cepat menaklukkan Desmosedici GP di awal musim 2027, atau ia justru akan menemui jalan terjal? Menarik untuk dinantikan bersama.(harian disway/ful) 

 

Advertisements

Share:
Editor: Syaiful Mahrum
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements
Yamaha

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements