BI Pilih Perkuat Insentif Investor Asing Ketimbang Naikkan Suku Bunga Acuan

Rizky Panchanov - Kamis, 23 Jul 2026 - 21:55 WIB
TETAP DIPERTAHANKAN: Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers RDG BI, Rabu (22/7).
TETAP DIPERTAHANKAN: Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers RDG BI, Rabu (22/7). - FOTO DOK BI

Follow Us:

Google News Radar Lampung Radar Lampung WhatsApp Channel
Advertisements

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mengoptimalkan pemberian insentif kepada investor asing daripada kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI rate. Strategi tersebut dipandang lebih mampu mendorong masuknya dana investasi portofolio asing sekaligus membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Juli 2026, bank sentral mempertimbangkan dua alternatif kebijakan. Pilihan pertama adalah menaikkan BI rate, sedangkan opsi lainnya meningkatkan insentif bagi investor asing agar aliran dana portofolio semakin besar masuk ke pasar keuangan domestik. Setelah mempertimbangkan berbagai aspek, BI memilih kebijakan kedua.

“Hari ini ada dua pilihan, apakah menaikkan BI rate dengan konsekuensi suku bunga dalam negeri juga akan naik, atau tidak menaikkan BI rate tetapi meningkatkan insentif agar semakin banyak aliran portofolio asing masuk. Ini yang kami putuskan hari ini,” ujar Perry dalam konferensi pers RDG BI, Rabu (22/7).

Untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, BI menyiapkan dua kelompok insentif. Paket pertama dirancang untuk meningkatkan daya tarik investasi portofolio asing. Dalam paket tersebut, BI menurunkan premi sebesar 12,5 persen untuk instrumen Swap Jual Lindung Nilai Investasi Portofolio BI. Selain itu, premi pada instrumen domestic non-deliverable forward (DNDF) Jual Lindung Nilai Investasi Portofolio BI juga dipangkas sebesar 15 persen.

Advertisements

Adapun paket insentif kedua difokuskan pada peningkatan transaksi menggunakan mata uang lokal atau local currency transaction (LCT). Melalui kebijakan tersebut, BI memberikan kenaikan premi sebesar 10 persen untuk Swap Beli Lindung Nilai BI. Di sisi lain, premi DNDF Jual Lindung Nilai BI diturunkan sebesar 10 persen. Kebijakan ini diharapkan dapat memperluas penggunaan mata uang lokal sekaligus memperdalam pasar uang dan pasar valuta asing dalam negeri.

Perry menilai pemberian insentif kepada investor memiliki efektivitas yang lebih besar dibandingkan menaikkan BI rate sebesar 25 basis poin. Kebijakan tersebut tidak hanya berpotensi meningkatkan arus investasi portofolio asing dan menjaga nilai tukar rupiah, tetapi juga menghindari tambahan tekanan terhadap tingkat suku bunga di dalam negeri. Dengan demikian, kondisi inflasi yang rendah dapat tetap terjaga, sementara pertumbuhan ekonomi, kesehatan sektor korporasi, serta pembiayaan pemerintah tetap mendapatkan dukungan.

“Dengan insentif-insentif ini lebih efektif menarik investasi portofolio asing, mengendalikan nilai tukar, dan tanpa memberikan dampak kenaikan suku bunga di dalam negeri. Ini lebih efektif daripada kenaikan BI rate 25 basis poin,” katanya.

Lebih lanjut, Perry mengatakan penerapan insentif untuk investor asing yang dibarengi dengan perluasan penggunaan LCT diharapkan mampu memperkuat kedalaman pasar uang dan pasar valuta asing. Pada akhirnya, kebijakan tersebut juga diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan stabilitas nilai tukar rupiah.

Advertisements

Berdasarkan catatan year to date (YTD), total aliran dana asing yang masuk ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) telah mencapai Rp192 triliun. Dari jumlah tersebut, sebanyak Rp8,8 triliun mengalir ke SBN, sedangkan Rp183,2 triliun masuk ke SRBI. Khusus sepanjang Juli 2026 hingga 20 Juli, arus dana asing tercatat mengalami net inflows sekitar Rp20 triliun.

Di sisi lain, Bank Indonesia memutuskan untuk tetap mempertahankan tingkat BI rate sebesar 5,75 persen dalam RDG yang digelar pada 21-22 Juli 2026. Keputusan mempertahankan suku bunga acuan tersebut dilakukan ketika perekonomian global masih menghadapi ketidakpastian yang tinggi, tekanan inflasi masih menjadi perhatian, dan bank sentral tetap berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.(beritasatu/nca)

 

Share:
Editor: Rizky Panchanov
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements
Yamaha

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements