Laba Bersih PTPN IV PalmCo Melonjak 54 Persen, Tembus Rp3,23 Triliun pada Semester I 2026

gambar-user/nz7Q72NpcwwYBAywk3yFKLgNe3YikANiO7u46H2h.jpg
Taufik Wijaya - Rabu, 29 Jul 2026 - 10:34 WIB
Subholding PT Perkebunan Nusantara III (Persero) itu mencatat laba bersih konsolidasian (unaudited) sebesar Rp3,23 triliun sepanjang Semester I 2026, meningkat 54 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Subholding PT Perkebunan Nusantara III (Persero) itu mencatat laba bersih konsolidasian (unaudited) sebesar Rp3,23 triliun sepanjang Semester I 2026, meningkat 54 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. - Foto Ist.

Follow Us:

Google News Radar Lampung Radar Lampung WhatsApp Channel
Advertisements

JAKARTA – PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo kembali membukukan kinerja keuangan yang impresif pada paruh pertama 2026. Subholding PT Perkebunan Nusantara III (Persero) itu mencatat laba bersih konsolidasian (unaudited) sebesar Rp3,23 triliun sepanjang Semester I 2026, meningkat 54 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan laba tersebut ditopang peningkatan pendapatan perusahaan yang mencapai Rp23,41 triliun atau naik 11 persen secara tahunan. Kontributor terbesar masih berasal dari penjualan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dengan nilai Rp19,36 triliun, didorong peningkatan penjualan di pasar domestik maupun ekspansi ke pasar internasional.
Selain didukung kenaikan harga rata-rata CPO yang mencapai Rp15.034 per kilogram atau meningkat sekitar enam persen dibandingkan Semester I 2025, perusahaan juga berhasil mengoptimalkan volume penjualan serta menerapkan efisiensi biaya secara konsisten.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan kombinasi pengendalian biaya dan peningkatan produktivitas menjadi faktor utama yang mengerek kinerja perusahaan.
"Pengendalian biaya dan peningkatan produksi menjadi tulang punggung perusahaan. Fundamental inilah yang membuat kenaikan harga CPO sebesar 6 persen di pertengahan tahun 2026 mampu membuahkan lonjakan laba hingga 54 persen di tengah berbagai tantangan," ujar Jatmiko.
Dari sisi operasional, perusahaan juga membukukan peningkatan produktivitas kebun. Hingga Juni 2026, produktivitas CPO mencapai 2,14 ton per hektare dengan tingkat rendemen kebun sendiri sebesar 23,48 persen atau lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menurut Jatmiko, capaian tersebut merupakan hasil penerapan standar operasional yang semakin baik, baik di tingkat perkebunan maupun pabrik pengolahan.
"Peningkatan produktivitas dan rendemen CPO merupakan buah dari perbaikan proses bisnis di pabrik kelapa sawit dan percepatan kultur teknis di lapangan. Kami memastikan setiap ton bahan baku yang masuk ke pabrik diolah dengan tingkat efisiensi dan pengawasan maksimum," katanya.
Efisiensi juga tercermin dari keberhasilan perusahaan menekan cash cost komoditas sawit hingga Rp3.707 per kilogram. Strategi tersebut dinilai mampu menjaga margin keuntungan di tengah tekanan inflasi dan dinamika ekonomi global.
"Pengendalian beban pokok operasional adalah pilar utama ketahanan kami saat ini. Serapan pemupukan yang terukur serta optimalisasi mesin pabrik membuat margin kami sangat terjaga dan sehat. Hal ini memberikan daya ungkit terhadap keuntungan, sehingga setiap peningkatan di level pendapatan langsung berdampak masif pada perbaikan bottom line perusahaan," tambahnya.
Kinerja positif juga terlihat dari peningkatan EBITDA yang mencapai Rp6,05 triliun atau tumbuh 29 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Di sisi lain, total aset perusahaan naik enam persen menjadi Rp81,57 triliun. Pertumbuhan tersebut mencerminkan upaya perusahaan memperkuat struktur keuangan sekaligus mengoptimalkan pengelolaan aset secara berkelanjutan.
"Pertumbuhan aset itu sejalan dengan komitmen kami dalam mengamankan aset negara melalui tata kelola perusahaan yang baik. Optimalisasi aset yang kami lakukan tidak hanya bertujuan untuk mendongkrak valuasi secara pencatatan, tetapi juga harus mampu memberikan manfaat ekonomi yang riil bagi pemegang saham dan negara," tegas Jatmiko.

Ekspor CPO Terus Diperluas

Dalam mendukung peningkatan pendapatan, PalmCo terus memperluas pasar ekspor sesuai arahan pemerintah. Selama periode 25 Mei hingga 8 Juli 2026, perusahaan berhasil mengirimkan sebanyak 129.500 ton CPO ke pasar internasional, terutama ke Tiongkok dan India.
Langkah tersebut menjadi salah satu faktor yang memperkuat kontribusi penjualan di tengah meningkatnya permintaan global terhadap minyak sawit Indonesia.

Bisnis Kopi Tetap Menguntungkan

Advertisements

Di luar bisnis sawit, PalmCo juga menjaga performa usaha kopi. Meskipun sebagian jadwal panen ditunda akibat perubahan pola iklim untuk memastikan kualitas biji kopi specialty grade tetap terjaga, lini usaha tersebut tetap membukukan laba bersih Rp2,49 miliar pada Semester I 2026.
Jatmiko menjelaskan, keputusan menunda panen dilakukan agar buah kopi dipetik dalam kondisi matang sempurna sehingga mampu memenuhi standar pasar premium.
"Keputusan menunda panen kopi adalah bukti nyata komitmen kami terhadap filosofi kualitas di atas kuantitas. Kami ingin mempertahankan kepercayaan tinggi dari para pembeli terhadap mutu kopi PTPN. Dan terbukti, langkah manajemen yang mengedepankan integritas produk ini tetap mampu memberikan kontribusi laba bagi perseroan," ujarnya.

Memasuki Semester II 2026, PalmCo akan mempercepat program pemupukan dengan memanfaatkan ketersediaan stok pupuk serta pasokan yang segera didistribusikan. Perusahaan juga menegaskan komitmennya mendukung ketahanan energi nasional melalui penyediaan bahan baku renewable biogasoline serta mempercepat program peremajaan sawit rakyat guna meningkatkan produktivitas nasional.
Meski mencatatkan hasil positif sepanjang enam bulan pertama tahun ini, manajemen menilai transformasi perusahaan masih terus berjalan. Evaluasi operasional, penguatan manajemen risiko, dan peningkatan efisiensi akan tetap menjadi fokus untuk menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan.
"Capaian enam bulan ini adalah landasan yang baik, namun ini baru permulaan. Dinamika industri agribisnis yang terus bergerak menuntut kami untuk terus adaptif. Oleh karena itu, continuous improvement mutlak kami lakukan agar pertumbuhan eksponensial dan penciptaan nilai tambah yang berkesinambungan bagi pemegang saham, ekosistem industri, dan masyarakat luas bisa terwujud," pungkas Jatmiko. (*)

Share:
Editor: Taufik Wijaya
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements
Yamaha

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements