Jalan Panjang Joko, Pejuang Hemodialisa Tak Cemas Biaya Karena BPJS

Yuda Pranata - Rabu, 29 Jul 2026 - 20:44 WIB
Warga Metro, Joko Hartono, dibonceng sang istri selepas mengikuti proses cuci darah di ruang Unit Hemodialisa RSUDAM.
Warga Metro, Joko Hartono, dibonceng sang istri selepas mengikuti proses cuci darah di ruang Unit Hemodialisa RSUDAM. - Foto Melida Rohlita/Radar Lampung

Follow Us:

Google News Radar Lampung Radar Lampung WhatsApp Channel
Advertisements

Empat tahun terakhir, Joko Hartono tak pernah absen menjalani hemodialisa dua kali sepekan di RSUD Abdul Moeloek Bandarlampung. Di balik rutinitas melelahkan itu, kehadiran program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menjadi penopang utama yang membebaskannya dari beban biaya pengobatan yang mencapai jutaan rupiah setiap tindakan dilakukan. Seperti apa kisahnya?

Laporan Melida Rohlita

KESIBUKAN terlihat di lorong depan ruang Unit Hemodialisa Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) Bandarlampung. Ruangan dengan cat bernuansa putih itu dipenuhi pasien dan keluarga yang silih berganti datang.
Tujuannya sama: Mengikuti proses cuci darah untuk mempertahankan fungsi ginjal yang kian melemah. Di tengah kesibukan tersebut, seorang pria paruh baya keluar dari ruang hemodialisa.
Senyum tipis terlihat di bibirnya. Lengannya yang kurus masih dibalut perban bekas tindakan medis. Pelan, ia berjalan menuju sebuah motor bebek tua dengan cat abu-abu kusam yang telah menunggu di halaman rumah sakit. 
Seorang perempuan berhijab ungu gelap yang sedari tadi menanti langsung menghampiri. Membantu membawakan barang, lalu memastikan suaminya duduk dengan nyaman di jok belakang.
Mereka adalah Joko Hartono dan Tri. Pasangan pemilik motor tua yang setia menemani perjalanan mereka. 
Sebelum bersiap pulang, Joko menyapa ramah. Percakapan singkat itu mengalir menjadi kisah tentang perjuangan yang selama ini ia jalani. 
Tak ada raut putus asa di wajahnya. Ia justru lebih banyak tersenyum ketika menceritakan bagaimana penyakit itu mengubah kehidupannya.
Selama empat tahun terakhir, ia dan istrinya menempuh perjalanan pulang pergi dari Kota Metro ke Bandar Lampung.
Dua kali dalam sepekan. Joko harus melakukan cuci darah untuk mempertahankan fungsi ginjalnya. Bermula dari hipertensi yang tak pernah disangka akan berujung pada gagal ginjal. 
Saat itu, lelaki berusia 42 tahun itu merasa tubuhnya baik-baik saja. Ia hanya mengonsumsi obat penurun tekanan darah dan menjalani aktivitas seperti biasa.
“Awalnya tensi saya tinggi. Minum obat terus. Tapi nggak terasa apa-apa. Badan malah sempat gemuk. Setelah dirawat, baru tahu ternyata harus cuci darah,” kenangnya.
Kabar itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Sejak saat itu, hemodialisa menjadi rutinitas yang harus dijalani agar kondisi tubuhnya tetap stabil.
Pada awal pengobatan, seluruh biaya masih ditanggung secara mandiri karena belum menjadi peserta BPJS Kesehatan. 
Sekali menjalani perawatan hingga tindakan medis, biaya yang harus dikeluarkan mencapai sekitar Rp8 juta hingga Rp10 juta.
Setelah dokter menyatakan dirinya harus menjalani hemodialisa secara rutin, Joko segera mengurus kepesertaan BPJS Kesehatan. 
Sejak itulah beban biaya pengobatan yang semula terasa begitu berat perlahan terangkat.
“Alhamdulillah sangat terbantu. Kalau enggak ada BPJS, kami bingung harus bagaimana, uang dari mana seminggu dua kali harus kesini, jadi sangat nyata manfaat JKN ini,” ujarnya, beberapa waktu lalu.
Awalnya, Ia menjalani terapi di rumah sakit di Metro. Namun karena sempat mengalami hepatitis, pengobatan dipindahkan ke RSUD Abdul Moeloek Bandar Lampung. 
Kondisi hepatitisnya kini telah dinyatakan nonreaktif, tetapi terapi cuci darah tetap harus dijalani secara rutin.
Setiap jadwal hemodialisa tiba, pasangan suami istri itu berangkat sejak pagi dari rumah mereka di Kota Metro. 
Tak ada mobil pribadi ataupun kendaraan lain yang lebih nyaman. Hanya sebuah motor tua yang setia mengantar mereka menuju Bandar Lampung.
“Capek pasti, tapi mau bagaimana lagi. Yang penting tetap semangat, sudah ada BPJS. Jadi yang kita harus punya semangat,” kata Joko.
Bagi pasien gagal ginjal, menjalani hemodialisa bukan berarti tubuh langsung kembali pulih. 
Joko mengaku kondisinya memang terasa jauh lebih ringan setelah darahnya dibersihkan melalui proses tersebut. Namun, sehari menjelang jadwal berikutnya, tenaga perlahan kembali menurun.
“Kalau habis cuci darah badan rasanya enteng seperti orang normal. Tapi sehari sebelum jadwal berikutnya biasanya sudah mulai lemas lagi,” tuturnya.
Biaya pengobatan sempat menjadi kekhawatiran terbesar bagi Joko dan keluarganya. Pada awal menjalani perawatan, seluruh biaya masih harus ditanggung secara mandiri. 
Dengan kebutuhan hemodialisa yang harus dilakukan secara rutin, ia menyadari beban tersebut akan sulit dipikul jika berlangsung dalam jangka panjang.
“Pekerjaan saya berdagang di pasar. Semenjak sakit saya membantu istri berjualan di rumah. Tapi untungnya iuran BPJS itu tidak terlalu besar jadi Alhamdulillah masih bisa dijangkau dengan kondisi ekonomi saat ini,” ungkapnya.
Setelah terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan, kekhawatiran itu perlahan berganti dengan harapan. Terapi hemodialisa yang harus dijalani dua kali setiap pekan dapat terus berlangsung tanpa lagi dibayangi biaya pengobatan yang besar.
Bagi Joko, BPJS Kesehatan bukan hanya menghadirkan akses layanan kesehatan. Program itu memberinya kesempatan untuk terus menjalani terapi yang menjadi penopang hidupnya selama empat tahun terakhir.
“Alhamdulillah sangat terbantu. Kalau enggak ada BPJS, kami bingung harus bagaimana,” ujarnya pria yang mempunyai pekerjaan serabutan ini.
Dengan suara pelan, Joko mengaku tak mampu membayangkan jika seluruh biaya hemodialisa harus ditanggung sendiri hingga hari ini. Menurutnya, tanpa jaminan kesehatan, kemungkinan besar ia akan kesulitan menjalani terapi secara rutin.
Karena itu, ia berharap BPJS Kesehatan terus memberikan pelayanan yang semakin baik agar masyarakat yang mengalami penyakit kronis seperti dirinya tetap dapat memperoleh pengobatan yang dibutuhkan.
Rutinitas itu telah dijalani selama empat tahun. Meski demikian, Joko mengaku tak pernah kehilangan semangat. Ada harapan sederhana yang terus ia genggam.
“Saya masih ingin melihat anak saya. Mudah-mudahan nanti juga bisa melihat cucu dari anak saya nanti,” ungkapnya.
Kalimat itu terlontar singkat, tetapi menggambarkan alasan terbesar yang membuatnya terus bertahan. 
Bukan semata melawan penyakit, melainkan agar tetap memiliki kesempatan menikmati waktu bersama keluarga.
Disamping itu, silaturahmi antar pejuang sehat dalam ruangan tersebut begitu terasa dan membuat semangat pulih terisi kembali.
Di balik perjuangan Joko, ada sosok yang nyaris tak pernah disorot. Tri, sang istri, menjadi orang pertama yang memastikan seluruh kebutuhan suaminya terpenuhi setiap kali jadwal hemodialisa tiba.
Sudah empat tahun terakhir, perempuan itu mengendarai sendiri motor tua mereka dari Metro menuju Bandar Lampung. 
Perjalanan pulang pergi yang memakan waktu berjam-jam bukan lagi sesuatu yang dianggap berat. 
Baginya, selama Joko masih bisa menjalani hemodialisa tepat waktu, perjalanan sejauh apa pun akan tetap ditempuh.
Usai terapi selesai dan kondisi suaminya belum sepenuhnya pulih, Tri kembali mengambil posisi di depan. 
Tanganya menggenggam setang motor, sementara Joko duduk di jok belakang dengan hati-hati menjaga lengan kirinya yang baru selesai menjalani tindakan medis.
Tak banyak kata yang keluar dari mulut Tri. Namun perhatian kecil yang ia tunjukkan berbicara lebih banyak daripada ucapan. 
Ia memastikan barang bawaan telah rapi, membantu suaminya mengenakan helm. Sesekali menoleh ke belakang memastikan Joko tetap nyaman selama perjalanan menuju Metro.
Bagi Joko, perjuangan melawan gagal ginjal mungkin tak akan terasa seringan ini tanpa kehadiran perempuan yang setia berada di sisinya. 
Sementara bagi Tri, mendampingi suami bukanlah pengorbanan yang harus dihitung. Melainkan bagian dari janji yang terus dijaga sejak mereka membangun rumah tangga.
Sebelum meninggalkan halaman RSUD Abdul Moeloek, Joko menyampaikan satu harapan. “Harapan saya BPJS jangan pernah lelah untuk terus berinovasi. Banyak pasien seperti saya yang sangat terbantu,” katanya.
Tak lama kemudian, Tri mengenakan helm dan menyalakan mesin motor tua yang telah menemani ribuan kilometer perjalanan mereka. 
Joko perlahan naik ke boncengan sambil menjaga lengannya yang baru selesai menjalani hemodialisa.
Motor itu kemudian melaju meninggalkan halaman RSUD Abdul Moeloek menuju Metro. 
Di tengah padatnya kendaraan yang berlalu-lalang, pemandangan tersebut mungkin tampak biasa. Namun bagi Joko dan Tri, perjalanan itu bukan sekadar menempuh puluhan kilometer menuju rumah.
Beberapa hari lagi, keduanya akan kembali menyusuri jalan yang sama menuju ruang hemodialisa. 
Selama tenaga masih ada dan harapan belum padam, Tri akan tetap menggenggam setang motor tua mereka.
Sementara Joko akan terus berjuang melawan penyakitnya. Demi satu keinginan sederhana yang terus ia simpan di dalam hati, hidup lebih lama untuk menyaksikan anaknya tumbuh, dan suatu hari nanti, menggendong cucunya sendiri. (yud)

Advertisements

Share:
Editor: Yuda Pranata
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements
Yamaha

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements