BANDARLAMPUNG – Musim kemarau mulai berdampak terhadap ketersediaan air bersih di Lampung, salah satunya di Kota Bandarlampung.
Sedikitnya 600 jiwa atau sekitar 150 kepala keluarga (KK) di Perumahan Alam Asri RT 1, Kelurahan Pidada, Kecamatan Panjang, mengalami kesulitan memperoleh air bersih setelah sumur yang selama ini menjadi sumber air utama mengering.
Kondisi tersebut memaksa warga menghemat penggunaan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti memasak, mandi, mencuci, hingga keperluan rumah tangga lainnya. Menurunnya debit air sumur juga mengganggu aktivitas masyarakat.
Kepala Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung Muhammad Fareza Revanza mengatakan kejadian di Kecamatan Panjang merupakan satu dari enam laporan kekeringan yang diterima BPBD selama musim kemarau tahun ini.
"Untuk saat ini ada enam laporan kekeringan. Semuanya berasal dari Bandar Lampung. Empat laporan berkaitan dengan gangguan teknis layanan PDAM, sedangkan dua laporan lainnya disebabkan sumur warga mengering," kata Fareza, Selasa (28/7).
Ia menjelaskan, selain di Kecamatan Panjang, BPBD juga menerima laporan kekeringan di Kelurahan Pahoman, Kecamatan Enggal, pada 5 Juni 2026. Saat itu, empat kepala keluarga atau 14 jiwa mengalami kesulitan mendapatkan air bersih akibat sumur mengering yang diperparah oleh terganggunya layanan air bersih.
