Ia secara tegas menentang sistem pendidikan kolonial Belanda yang kala itu tidak memberikan akses pendidikan untuk kaum Bumiputra dan hanya mengutamakan anak bangsawan dan keturunan Belanda.
Akibat kritik sosial dan politiknya yang tajam ini membuat Ki Hadjar Dewantara diasingkan ke Pulau Bangka oleh pemerintah kolonial. Sepulangnya dari pengasingan, di tahun 1922 Ki Hadjar mendirikan lembaga pendidikan bernama Perguruan Taman Siswa.
Lembaga ini hadir untuk menyediakan layanan pendidikan yang setara untuk masyarakat Bumiputra lewat sistem among yang memanusiakan manusia dan berjiwa kekeluargaan.
Perjuangannya tak berhenti sampai di sini, Ki Hadjar dengan berani menolak Undang-Undang Sekolah Liar (Wilde Scholen Ordonnantie 1932) buatan Belanda.
Dikarenakan UU tersebut membatasi gerak nasionalisme pendidikan dan ruang gerak sekolah swasta. Perjuangannya untuk dunia pendidikan terhenti saat dirinya wafat pada 26 April 1959.
Maka dari itu, sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan jasanya, pemerintah kemudian menetapkan hari lahirnya sebagai Hari Pendidikan Nasional untuk mengingatkan kita semua akan pentingnya pendidikan untuk peradaban dan daya saing bangsa.
Melansir dari buku Kisah Perjuangan Pahlawan Indonesia ditulis oleh Lia Nuralia, berikut adalah rekam jejak perjuangan Ki Hadjar Dewantara:
1. Berkarir sebagai Wartawan
Pendidikan dasar Ki Hadjar Dewantara selesai di Europesche Lege School (ELS). Kemudian, ia sempat melanjutkan studinya ke sekolah dokter Jawa yang dikenal dengan nama STOVIA. Akan tetapi, ia tidak menamatkan pendidikannya di sana karena faktor kesehatan. Kondisi tersebut justru mengarahkan dirinya untuk terjun ke dunia jurnalistik.
Sebagai seorang wartawan, Ki Hadjar aktif menulis di berbagai surat kabar ternama di masanya. Beberapa di antaranya menjadi wadah pemikiran kritisnya, antara lain Sedyotomo, Midden Java, de Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, hingga Poesara.
Lewat tulisannya ini, ia secara tajam menyuarakan kritik terhadap kebijakan pemerintah kolonial yang dianggap merugikan rakyat.
2. Terjun ke Organisasi Politik
Ki Hadjar Dewantara juga terjun ke bidang politik, dimulai saat dirinya bergabung dengan Budi Utomo. Dalam organisasi tersebut, ia berperan aktif mengunggah kesadaran masyarakat akan pentingnya persatuan nasional.
Puncak perjuangan politiknya terjadi pada 25 Desember 1912 saat ia mendirikan indische Partij bersama dua rekannya, Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo.