Ditambah dengan pesatnya alih fungsi lahan dan berkurangnya ruang terbuka hijau, kemampuan tanah dalam menyerap air hujan menjadi semakin terbatas.
Berdasarkan informasi BMKG, intensitas curah hujan di wilayah Lampung dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kecenderungan meningkat, terutama pada musim hujan dengan kejadian hujan ekstrem yang lebih sering terjadi.
Kondisi ini memperbesar potensi terjadinya banjir, khususnya di kawasan dengan sistem drainase yang belum optimal.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Forum DAS Provinsi Lampung, Prof. Dr. Slamet Budi Yuwono, menyampaikan sejumlah solusi berbasis DAS yang telah dirancang oleh Forum DAS.
Ia menekankan pentingnya pendekatan terpadu yang tidak hanya mengandalkan infrastruktur keras, tetapi juga memperkuat fungsi ekologis lanskap.
Beberapa rekomendasi utama yang diajukan antara lain mitigasi jangka pendek dengan normalisasi dan penataan bangunan di sepadan sungai, pembangunan kolam retensi untuk menampung limpasan air hujan, pembuatan sumur resapan dan lubang biopori untuk meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah, serta penanaman pohon di daerah-daerah strategis sebagai upaya konservasi tanah dan air.
“Forum DAS telah mengidentifikasi dan menyiapkan 1.500 titik lokasi prioritas untuk pelaksanaan kegiatan tersebut. Kami optimis bahwa jika langkah-langkah ini diimplementasikan secara konsisten, potensi banjir di Kota Bandar Lampung dapat ditekan hingga lebih dari 50 persen,” jelas Prof. Slamet.
Pendekatan ini dinilai sejalan dengan konsep pengelolaan DAS berkelanjutan yang menitikberatkan pada keseimbangan antara pembangunan dan konservasi lingkungan.
Selain mengurangi risiko banjir, upaya tersebut juga berkontribusi terhadap peningkatan kualitas lingkungan perkotaan secara keseluruhan.
Sementara, Kepala Balai Pengelolaan DAS (BPDAS) Way Seputih Way Sekampung, Dr. Irwan Valentinus Sihotang, yang menyatakan komitmen penuh lembaganya dalam mendukung upaya penanggulangan banjir di Bandar Lampung.
“Mengurangi banjir tidak harus selalu membuang air lebih cepat, tapi lebih kea rah bagaimana mengurangi air yang masuk ke system, oleh karena itu BPDAS sangat siap mendukung penyelesaian masalah banjir, baik melalui penyediaan kajian yang komprehensif maupun dukungan teknis seperti penyediaan bibit pohon berkualitas untuk kegiatan rehabilitasi lahan,” ujarnya.
Dukungan dari BPDAS ini menjadi penting, mengingat rehabilitasi kawasan hulu dan daerah tangkapan air merupakan salah satu kunci dalam mengurangi debit limpasan yang masuk ke wilayah perkotaan.