BANDARLAMPUNG — Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat menjadi perhatian Pemerintah Kota
Bandarlampung.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok, terutama
komoditas impor dan bahan penunjang aktivitas perdagangan.
Kepala Dinas Perdagangan Bandarlampung Erwin mengatakan dampak kenaikan kurs dolar terhadap
harga barang di pasar saat ini belum terlalu terasa. Hal itu karena sebagian besar barang yang beredar
masih berasal dari stok lama saat nilai tukar rupiah belum melemah signifikan.
“Untuk sekarang pengaruhnya belum signifikan karena barang yang dijual masih stok lama. Tetapi kalau
dolar terus menguat, tentu nantinya akan berdampak pada harga,” kata Erwin, Selasa, 26 Mei 2026.
Menurutnya, barang impor menjadi sektor paling rentan terdampak karena transaksi pembelian dari
luar negeri menggunakan mata uang dolar AS. Ketika kurs naik, biaya yang harus dikeluarkan importir
otomatis ikut meningkat.
Erwin mencontohkan komoditas bawang putih yang hingga kini masih bergantung pada pasokan impor.
Meski harga di negara asal tidak berubah, pelemahan rupiah tetap membuat harga jual di dalam negeri
meningkat.
“Misalnya harga barang di luar tetap 10 dolar, tapi kalau nilai tukar rupiah melemah, maka biaya yang
dibayar di sini ikut naik,” jelasnya.
Selain pangan impor, penguatan dolar juga diperkirakan berdampak pada sektor distribusi dan
operasional perdagangan. Kenaikan harga minyak dunia dinilai berpotensi meningkatkan ongkos
transportasi barang.
Tak hanya itu, bahan baku plastik yang mayoritas masih diimpor juga diprediksi mengalami kenaikan
harga sehingga memengaruhi biaya produksi pelaku usaha.
“Bahan baku plastik banyak yang impor, jadi pasti terdampak. Pedagang biasanya memilih antara
menaikkan harga atau mengurangi kualitas barang,” imbuhnya.
Meski demikian, Pemerintah Kota Bandar Lampung memastikan harga kebutuhan pokok menjelang Hari
Raya Iduladha masih relatif terkendali. Bahkan sejumlah komoditas tercatat mengalami penurunan
harga.
