Oleh Wahyu Agil Permana
(Peneliti dan pegiat sejarah Lampung)
Setiap tanggal 17 Juni, Kota Bandar Lampung selalu diramaikan dengan puspawarna acara dan festival. Berbagai kegiatan digelar untuk memperingati hari jadi kota yang merupakan ibu kota Provinsi Lampung itu. Hari ini, Bandar Lampung genap berusia 344 tahun, sebuah angka yang menandai panjangnya perjalanan sejarah yang telah dilalui.
Mengetahui dan memperingati hari jadi sebuah kota memang memiliki arti penting. Sama pentingnya dengan mengetahui sejarah sendiri, mengetahui jati diri. Peringatan hari jadi menjadi simbol identitas yang menghubungkan masa kini dengan masa lalu.
Tak ada yang salah dari perayaan hari jadi sebuah kota. Hanya saja, jangan karena terlalu larut dalam euforia perayaan itu, lantas membuat kita lupa akan substansi hari jadi itu sendiri. Karena sejatinya, memperingati hari jati adalah menjadikannya sebagai momentum untuk menengok kembali asal-usul sebuah kota serta menelusuri jejak sejarah yang membentuknya.
Sebagaimana manusia perlu mengenali jati dirinya, sebuah kota pun semestinya berdiri di atas fondasi sejarah yang terang dan dapat dipertanggungjawabkan. Kendatipun, adalah fakta yang sulit disanggah bahwa sejarah selalu menyimpan bagian-bagian yang belum sepenuhnya terjamah.
Hari jadi Kota Bandar Lampung, dengan rentang sejarahnya yang hampir tiga setengah abad, tentu tidak luput dari dinamika semacam itu.
Selayang Pandang Teluk Betung-Tanjung Karang
Sebelum resmi menyandang nama Bandar Lampung, kota ini dikenal dengan sebutan Kotamadya Daerah Tingkat II Tanjung Karang-Teluk Betung. Nama tersebut mencerminkan asal-usulnya sebagai hasil penyatuan dua kota tua yang lebih dahulu berkembang, yakni Tanjung Karang dan Teluk Betung.
Namun, jauh sebelum disatukan, kedua kota itu telah memiliki perjalanan sejarahnya masing-masing. Kisahnya bermula dari Teluk Betung.
Dalam buku Sejarah Sosial Daerah Lampung, Kota Madya Bandar Lampung (1984), disebutkan bahwa nama Teluk Betung telah tercatat sejak awal abad ke-17, pada masa kekuasaan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Salah satu bukti tertulisnya dapat ditemukan dalam Dagh-Register gehouden int Casteel Batavia Vol. I (1682), sebuah catatan harian yang merekam berbagai peristiwa di wilayah kekuasaan dan jaringan perdagangan VOC di Asia, termasuk Nusantara.
Dalam catatan tersebut, terdapat laporan bertanggal 17 Juni 1682 yang disampaikan oleh seorang utusan Kesultanan Banten bernama Pangeran Aria Dipati Ningrat kepada pejabat VOC di Banten, William Caaff. Di dalam laporannya itu, Pangeran Aria Dipati Ningrat menyebut sebuah wilayah di pesisir Lampung dengan nama Toelock Betang. Penamaan tersebut diduga berkaitan dengan letaknya yang berada di kawasan teluk dan terletak di kaki Bukit Betung, sehingga disebut Teluk Betung.