JAKARTA– Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membuka peluang penurunan harga
bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax, menyusul melemahnya harga minyak dunia
pasca tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengatakan harga BBM nonsubsidi mengikuti mekanisme
harga keekonomian. Karena itu ketika harga minyak dunia turun, harga jual BBM nonsubsidi juga
berpotensi mengalami penyesuaian ke bawah.
"Ketika harga minyak dunia turun, sudah dipastikan harga BBM nonsubsidi akan turun. Begitu juga
sebaliknya, ketika harga minyak dunia naik maka harga BBM akan menyesuaikan harga
keekonomiannya," kata Anggia di Jakarta, Rabu (17/6).
Menurutnya, penyesuaian harga tersebut diperlukan untuk menjaga keberlanjutan pengadaan energi
nasional. Ia menegaskan pemerintah tetap memperhatikan keseimbangan antara kondisi pasar energi
global dan daya beli masyarakat.
Harga minyak dunia sendiri tercatat turun sekitar 5 persen pada perdagangan Selasa (16/6). Penurunan
dipicu meredanya ketegangan geopolitik setelah tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran
yang membuka kembali akses pelayaran melalui Selat Hormuz serta peluang ekspor minyak Iran ke
pasar global.
Harga minyak mentah Brent turun US$4,21 atau 5,1 persen menjadi US$78,96 per barel. Sementara
minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun US$4,70 atau 5,8 persen menjadi
US$76,05 per barel.
Anggia mengungkapkan pemerintah sebelumnya berupaya menahan kenaikan harga BBM nonsubsidi
guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat. Namun, fluktuasi harga energi global yang
semakin dinamis membuat badan usaha harus menyesuaikan harga berdasarkan perhitungan
keekonomian.
"Kalau harga minyak dunia terus turun, tentu akan ada penyesuaian juga pada harga BBM nonsubsidi,"
ujarnya.
Sementara itu di Lampung, kenaikan harga Pertamax yang berlaku sejak 10 Juni 2026 telah memicu
perubahan pola konsumsi BBM masyarakat.
Pantauan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) menunjukkan antrean kendaraan,
terutama pada dispenser Pertalite dan Biosolar, semakin padat dibandingkan sebelumnya.
Jika sebelumnya antrean didominasi kendaraan angkutan barang yang mengisi Biosolar, kini antrean
sepeda motor pengisi Pertalite juga terlihat mengular, terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari.
Pantauan di SPBU 24.351.77 Labuhan Ratu pada Senin (15/6) pagi menunjukkan antrean sepeda motor
untuk mengisi Pertalite memanjang hingga sekitar pukul 10.00 WIB. Kondisi serupa terlihat di SPBU
24.251.137 Sukadanaham dan SPBU 24.35358 Kurungan Nyawa.