Di sejumlah lokasi tersebut, antrean kendaraan roda dua pengisi Pertalite bercampur dengan antrean
kendaraan besar yang mengisi Biosolar. Sementara antrean Biosolar juga masih menjadi pemandangan
rutin di SPBU Bypass Rajabasa dan Soekarno-Hatta.
Kondisi ini tidak lepas dari kenaikan harga Pertamax di Lampung dari Rp12.600 per liter menjadi
Rp16.650 per liter atau naik Rp4.050 per liter. Selisih harga yang cukup besar mendorong sebagian
pengguna Pertamax beralih ke Pertalite untuk menghemat pengeluaran.
Riana, warga Pasir Putih yang bekerja di Telukbetung, mengaku kini lebih sering menggunakan Pertalite
dibandingkan Pertamax.
"Sekarang saya lebih memilih Pertalite walaupun harus mengantre. Selisih harga sekitar Rp4.000 per
liter cukup terasa untuk pengeluaran harian," ujarnya.
Menurut Riana, antrean Pertalite memang semakin panjang sejak harga Pertamax naik. Namun hingga
kini ia masih mudah mendapatkan Pertalite karena stok di SPBU relatif tersedia.
Hal senada disampaikan Amri, warga Gedongtataan yang bekerja sebagai tenaga penjualan. Ia mengaku
terkadang tetap membeli Pertamax saat antrean Pertalite terlalu panjang agar tidak mengganggu
pekerjaannya.
"Kalau antreannya terlalu lama, saya terpaksa isi Pertamax supaya tidak terlambat. Tetapi kalau masih
memungkinkan, saya tetap memilih Pertalite," katanya.
Fenomena tersebut menunjukkan kenaikan harga Pertamax telah memengaruhi perilaku konsumen
BBM di Lampung. Namun, apabila tren penurunan harga minyak dunia berlanjut dan diikuti penyesuaian
harga Pertamax, peralihan konsumsi ke Pertalite berpotensi berkurang sehingga kepadatan antrean di
sejumlah SPBU dapat mereda. (dtc/pip/c1/abd)