Harga Pertamax Naik, DPRD Lampung Dorong Percepatan Pengembangan Energi Terbarukan

Anggota Komisi IV DPRD Lampung Amaludin meminta pemerintah mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT) menyusul kenaikan harga BBM nonsubsidi yang berdampak pada industri, UMKM, dan daya beli masyarakat.
Agung Budiarto - Kamis, 18 Jun 2026 - 11:32 WIB
Anggota Komisi IV DPRD Lampung Amaludin meminta pemerintah mempercepat pengembangan energi baru terbarukan sebagai solusi mengurangi ketergantungan terhadap BBM impor di tengah kenaikan harga Pertamax.
Anggota Komisi IV DPRD Lampung Amaludin meminta pemerintah mempercepat pengembangan energi baru terbarukan sebagai solusi mengurangi ketergantungan terhadap BBM impor di tengah kenaikan harga Pertamax. - AGUNG BUDIARTO/RADAR LAMPUNG

Follow Us:

Google News Radar Lampung Radar Lampung WhatsApp Channel
Advertisements

 

BANDAR LAMPUNG – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya Pertamax, menjadi perhatian Anggota Komisi IV DPRD Lampung, Amaludin. Ia meminta pemerintah lebih serius mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) guna mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

Menurut Amaludin, potensi energi terbarukan di Indonesia, termasuk di Lampung, cukup besar dan perlu dimanfaatkan sebagai solusi jangka panjang menghadapi fluktuasi harga BBM.

"Soal BBM ini sudah kita bahas. Ke depan, kami mendorong pemerintah agar lebih mengedepankan pengembangan EBT karena potensinya sangat besar," ujar Amaludin.

Advertisements

Selain itu, ia mengimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying BBM bersubsidi menyusul kenaikan harga Pertamax yang kini menembus kisaran Rp16 ribu per liter.

Menurutnya, masyarakat saat ini sudah cukup memahami kondisi yang terjadi. Sementara terkait ketersediaan stok BBM, DPRD Lampung berencana memanggil pihak Pertamina untuk meminta penjelasan.

"Kami melihat masyarakat sudah memiliki kesadaran terhadap situasi ini. Terkait stok BBM, memang sudah ada rencana untuk memanggil Pertamina," katanya.

Amaludin menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi akan berdampak luas terhadap perekonomian, terutama bagi sektor industri, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta daya beli masyarakat.

Advertisements

Menurut politisi Partai Demokrat tersebut, kenaikan harga BBM hampir selalu diikuti meningkatnya biaya produksi dan distribusi, yang kemudian memicu kenaikan harga barang dan jasa.

"Pastinya ada dampak. Sektor industri dan UMKM akan merasakan langsung kenaikan biaya operasional, yang pada akhirnya juga memengaruhi daya beli masyarakat. Ini harus menjadi perhatian bersama," ujarnya, Senin (16/6).

Ia menambahkan, efisiensi penggunaan energi menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk menekan beban pengeluaran masyarakat maupun pelaku usaha.

Namun demikian, Amaludin menegaskan pemerintah tidak boleh terus bergantung pada energi fosil. Ia mendorong percepatan pemanfaatan berbagai sumber energi alternatif seperti gas, bioetanol, dan energi terbarukan lainnya yang lebih berkelanjutan.

Advertisements

Share:
Editor: Agung Budiarto
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements