Keluhan serupa datang dari para pengemudi angkutan barang yang setiap hari menggantungkan aktivitasnya pada jalur Tol Trans Sumatera.
Hanafi, salah satu sopir truk lintas provinsi, mengaku biaya operasional yang semakin tinggi membuat para pengemudi berada dalam posisi sulit. “Sekarang biaya operasional sudah tinggi. Kalau tarif tol naik lagi tentu semakin berat bagi kami,” ujarnya.
Sementara itu, Suparman, mengungkapkan bahwa sebagian pengemudi mulai mempertimbangkan kembali penggunaan jalan tol karena alasan ekonomi. “Kalau biaya tol terlalu tinggi, banyak sopir akhirnya memilih jalan arteri untuk menghemat pengeluaran,” katanya.
Fenomena tersebut dinilai kontraproduktif dengan tujuan awal pembangunan jalan tol yang seharusnya mempercepat mobilitas barang dan manusia.
Jika pengguna kembali beralih ke jalan nasional, kepadatan lalu lintas berpotensi meningkat, sementara efisiensi logistik yang dijanjikan keberadaan tol justru tidak tercapai secara optimal.
Di tengah polemik tarif, persoalan lain juga mencuat terkait dugaan peralihan vendor penyedia jasa layanan jalan Tol Bakter.
Informasi yang beredar menyebutkan penyedia layanan yang sebelumnya dikelola PT HK Aston telah dialihkan kepada PT Marga Solusi Prima (MSP).
Peralihan tersebut mencakup berbagai layanan penting, mulai dari operasional gerbang tol, pengelolaan rest area, mobil derek darurat, pemeliharaan jalan, manajemen lalu lintas, hingga fasilitas pendukung lainnya. Namun upaya konfirmasi terhadap pengelola tol justru menemui jalan buntu.
Manajer Usaha Jasa Lainnya PT BTB, Irpan Sahpani, menolak memberikan keterangan saat dihubungi. “Bukan ke saya, mohon maaf nih,” jawab Irpan melalui pesan singkat.
Ia kemudian mengarahkan wartawan untuk menghubungi pihak Humas PT HK Aston, perusahaan yang justru disebut-sebut sebagai vendor lama yang kabarnya telah digantikan. “Silakan saja datang ke kantor kami, ada humas. Humas HKA ya mas,” katanya.
Situasi ini memunculkan pertanyaan masyarakat mengenai transparansi pengelolaan salah satu infrastruktur strategis di Lampung tersebut. (net/hdk/c1/yud)