BANDARLAMPUNG – Suasana di kawasan Waykandis, Kecamatan Tanjungsenang, Kota Bandarlampung, mendadak ramai pada Rabu (24/6).
Seorang pria terlihat berada di atas tower telekomunikasi setinggi puluhan meter hingga mengundang perhatian warga sekitar.
Salah seorang warga, Andi (34), mengaku awalnya mengira pria tersebut merupakan teknisi yang sedang melakukan pekerjaan di atas tower. Namun, kecurigaan mulai muncul karena pria itu tidak kunjung turun dalam waktu yang cukup lama.
“Awalnya saya kira petugas tower yang sedang bekerja. Tapi makin lama tidak turun-turun. Warga mulai berkumpul karena khawatir terjadi sesuatu,” ujarnya.
Menurut Andi, beredar informasi di tengah masyarakat bahwa pria tersebut diduga sedang menghadapi persoalan rumah tangga. Namun, informasi tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya.
Belakangan, pria itu diketahui bernama Mursalin Candra (25). Ia diduga melakukan percobaan bunuh diri dengan memanjat tower telekomunikasi di wilayah Way Kandis.
Informasi kejadian diterima Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Lampung dari Bhabinkamtibmas setempat pada pukul 10.13 WIB. Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim Rescue Basarnas Lampung langsung menyiapkan personel beserta peralatan penyelamatan untuk diterjunkan ke lokasi.
Tim diberangkatkan pada pukul 10.55 WIB dengan membawa perlengkapan vertical rescue dan peralatan pendukung lainnya. Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit, petugas tiba di lokasi pada pukul 11.40 WIB.
Setibanya di lokasi, tim rescue segera berkoordinasi dengan unsur SAR gabungan yang lebih dahulu berada di tempat kejadian. Petugas kemudian melakukan asesmen guna menentukan metode penyelamatan yang paling aman.
Karena posisi korban berada di puncak tower, proses evakuasi tidak dapat dilakukan secara terburu- buru. Petugas mengedepankan pendekatan persuasif untuk menghindari risiko yang dapat
membahayakan korban maupun personel penyelamat.
Komandan Tim Rescue Basarnas Lampung, Sumaryansyah, mengatakan komunikasi menjadi langkah utama sebelum proses evakuasi dilakukan.
“Kami mengutamakan keselamatan korban. Tim lebih dulu melakukan pendekatan dan komunikasi secara persuasif agar korban merasa tenang. Setelah situasi memungkinkan, proses evakuasi dilakukan secara hati-hati hingga korban berhasil diturunkan,” kata Sumaryansyah.