Festival tersebut akan menghadirkan parade busana berbahan kain tapis yang dikreasikan secara modern tanpa meninggalkan identitas budaya Lampung.
Tony mengatakan pihaknya akan melibatkan pelajar SMA, mahasiswa, komunitas kreatif hingga berbagai pemangku kepentingan untuk meramaikan Festival Tapis.
"Di acara tersebut kami akan mencoba mengundang berbagai elemen pemangku kepentingan untuk berpartisipasi, termasuk dari dunia pendidikan seperti SMA dan perguruan tinggi, serta stakeholder lainnya," ujarnya.
Menurutnya, Festival Tapis diharapkan menjadi etalase budaya Lampung yang mampu menarik perhatian wisatawan apabila rangkaian wisata Krakatau harus dikurangi.
"Nantinya mereka akan berbusana yang menonjolkan ciri khas budaya Lampung, yaitu kain tapis, dengan kreasinya masing-masing. Namun, kreasi tersebut tidak akan menghilangkan identitas asli budaya tapis sebagai ciri khas Lampung," jelas Tony.
Saat ini konsep penyelenggaraan masih dimatangkan bersama Event Organizer (EO), mulai dari format pertunjukan, jumlah peserta hingga konsep parade budaya.
Tony menegaskan keselamatan masyarakat tetap menjadi pertimbangan utama pemerintah. Seluruh keputusan mengenai pelaksanaan kegiatan di kawasan Krakatau akan mengikuti perkembangan aktivitas vulkanik serta rekomendasi dari Badan Geologi dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Menurutnya, Gunung Anak Krakatau bukan kawasan wisata biasa. Selain merupakan kawasan konservasi, aktivitas vulkaniknya masih berpotensi membahayakan masyarakat apabila memaksakan aktivitas di sekitar gunung.
Saat ini masyarakat maupun wisatawan diminta tidak memasuki radius aman minimal lima kilometer dari kawah aktif.
"Saat ini telah diimbau agar menjaga jarak aman paling tidak sejauh lima kilometer, jangan sampai mendekat. Kalau dulu batas amannya masih dua kilometer," katanya.
Imbauan tersebut juga telah disampaikan BPBD kepada seluruh masyarakat dan pelaku wisata agar tidak melakukan aktivitas apa pun di kawasan Gunung Anak Krakatau selama status siaga masih diberlakukan.
Tony memastikan Pemprov tidak akan mengambil risiko apabila kondisi gunung masih belum memungkinkan. "Kami akan terus memantau kondisinya, terutama kaitannya dengan pelaksanaan Festival Krakatau, apakah salah satu rangkaian acara bisa tetap diselenggarakan di sana atau tidak," tegasnya.
