BANDARLAMPUNG – Festival Krakatau 2026 yang selama puluhan tahun menjadi ikon pariwisata Provinsi Lampung terancam batal.
Sebab, Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih berstatus Level III (Siaga) membuat sejumlah agenda utama festival terancam tidak bisa digelar sesuai rencana.
Bahkan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung mulai menyiapkan skenario perubahan konsep apabila aktivitas vulkanik belum menunjukkan penurunan hingga akhir Agustus mendatang.
Situasi ini menjadi ancaman serius bagi penyelenggaraan Festival Krakatau yang dijadwalkan berlangsung pada 25–30 Agustus 2026.
Sebab, daya tarik utama festival selama ini justru terletak pada rangkaian kegiatan yang berkaitan langsung dengan kawasan Gunung Anak Krakatau, seperti wisata bahari, pelayaran menuju Krakatau hingga tradisi tabur bunga di sekitar kawasan gunung api legendaris tersebut.
Hingga kini, Pemerintah belum berani memberikan kepastian apakah kegiatan tersebut tetap bisa dilaksanakan atau harus dibatalkan demi alasan keselamatan.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung, Tony Ferdinansyah, mengakui seluruh rangkaian kegiatan yang berkaitan langsung dengan kawasan Krakatau masih terus dievaluasi.
"Melihat kondisi Gunung Krakatau yang sedang aktif seperti saat ini dan sudah berstatus Level III (Siaga), kami akan terus memantau perkembangannya. Kami akan melihat langkah selanjutnya, apakah kegiatan tersebut bisa dilanjutkan atau konsepnya harus diubah," kata Tony, Senin (13/7).
Jika batal, Pemprov mulai menyiapkan berbagai alternatif apabila status Gunung Anak Krakatau tidak kunjung turun hingga mendekati pelaksanaan festival.
Bagi dunia pariwisata Lampung, Festival Krakatau merupakan agenda tahunan. Sejak pertama kali digelar, festival ini selalu menjadikan pesona Gunung Anak Krakatau sebagai ikon utama yang membedakannya dari festival daerah lainnya.
Karena itu, apabila seluruh aktivitas menuju kawasan Krakatau akhirnya ditiadakan, wajah Festival Krakatau dipastikan akan berubah drastis.
Pemprov pun mulai menggeser fokus penyelenggaraan dengan memperkuat agenda kebudayaan melalui Festival Tapis yang kini diposisikan sebagai salah satu acara utama.
