BANDARLAMPUNG – Peta persaingan menuju Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Lampung (Unila) periode 2027–2031 mulai menghangat. Meski tahapan resmi belum dibuka, sejumlah figur internal kampus mulai disebut-sebut masuk dalam bursa calon rektor.
Beredar kabar, salah satu nama yang kini ramai diperbincangkan di lingkungan akademik adalah Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unila Prof. Dr. Anna Gustina Zainal, S.Sos., M.Si.
Mantan Wakil Rektor III Unila tersebut dinilai memiliki pengalaman panjang di bidang akademik maupun manajerial sehingga dianggap layak masuk dalam radar calon pemimpin perguruan tinggi negeri terbesar di Provinsi Lampung itu.
Namun, saat dikonfirmasi Radar Lampung terkait peluang dirinya maju sebagai calon rektor, Prof. Anna belum memberikan jawaban tegas. “Wa’alaikumsalam. Maaf, saya sedang ada kegiatan,” jawabnya singkat melalui pesan WhatsApp, Senin (20/7).
Selain Prof. Anna, nama Dr. Budiyono, dosen Fakultas Hukum Unila, menjadi figur pertama yang secara terbuka menyatakan kesiapannya maju dalam kontestasi Pilrek Unila.
Budiyono bahkan telah memperkenalkan konsep kepemimpinan bertajuk GASPOL, akronim dari Global, Adaptif, Smart, Profesional, Optimis, dan Leadership, sebagai visi yang akan dibawanya apabila dipercaya memimpin Unila.
“Saya mencalonkan diri sebagai Rektor Unila 2027–2031. Konsep GASPOL merupakan hasil perumusan berbagai gagasan akademisi Unila untuk membawa kampus ini jauh lebih maju,” ujar Budiyono dalam wawancara dengan Radar Lampung beberapa waktu lalu.
Sementara itu, satu nama senior yang sebelumnya kerap dikaitkan dengan bursa rektor dipastikan tidak ikut dalam kontestasi.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unila Prof. Dr. Nairobi memastikan dirinya tidak akan mencalonkan diri karena telah melewati batas usia sebagaimana ketentuan pencalonan rektor.
“Saya tidak bisa nyalon rektor. Umur saya sudah lewat dari 60 tahun,” ujar Prof. Nairobi saat dihubungi Radar Lampung, Senin (20/7).
Meski tidak ikut bertarung, Prof. Nairobi berharap proses pemilihan rektor nanti benar-benar mengedepankan kualitas dan kompetensi calon, bukan dipengaruhi sentimen di luar kapasitas akademik.
Menurutnya, Unila saat ini memiliki sekitar 180 profesor yang menjadi modal besar untuk melahirkan pemimpin terbaik.
Ia menegaskan, siapa pun yang memenuhi persyaratan memiliki hak yang sama untuk maju, baik berasal dari internal maupun eksternal kampus, laki-laki maupun perempuan.
“Siapa pun yang ingin memajukan Unila dan memenuhi syarat memiliki kesempatan yang sama. Tidak ada syarat harus putra daerah atau berasal dari kelompok tertentu,”* katanya.
Prof. Nairobi juga menilai tantangan perguruan tinggi ke depan semakin kompleks. Karena itu, rektor yang akan memimpin Unila harus memiliki integritas tinggi, kapasitas akademik yang kuat, serta jejaring internasional agar mampu membawa Unila bersaing di tingkat global.
Di sisi lain, proses menuju Pilrek masih berada pada tahap penyusunan regulasi. Senat Universitas Lampung hingga kini masih merampungkan Peraturan Senat dan tata tertib pemilihan rektor yang akan menjadi dasar hukum seluruh tahapan penjaringan dan pemilihan Rektor Unila periode 2027–2031.
Sebagai anggota Senat, Prof. Nairobi menyatakan belum bersedia berbicara mengenai siapa saja figur yang layak menjadi calon rektor.
“Saya tidak punya wewenang memberikan penilaian atau meng-endorse siapa yang berpeluang menjadi bakal calon rektor,” ujarnya.
Terpisah, Sekretaris Senat Unila, Dr. Heru Wahyudi, S.E., M.Si., membenarkan bahwa pembahasan regulasi pemilihan rektor saat ini memasuki tahap akhir. “Sekarang sedang finalisasi draf tata cara dan tata tertib Pilrek,” katanya melalui pesan singkat.
Finalisasi aturan tersebut menjadi tahapan penting sebelum Senat membuka pendaftaran bakal calon rektor. Regulasi yang disusun akan mengatur seluruh mekanisme, mulai dari persyaratan calon, proses penjaringan, penyaringan hingga pemilihan rektor.
Mencuatnya sejumlah nama sebelum tahapan resmi dimulai menunjukkan dinamika politik kampus mulai bergerak. Kalangan sivitas akademika kini menunggu regulasi tersebut rampung agar proses pilrek dapat berjalan secara terbuka, kompetitif, dan menghasilkan pemimpin yang mampu membawa Universitas Lampung menghadapi tantangan pendidikan tinggi di tingkat nasional maupun internasional. (gie/c1/yud)
