JAKARTA - Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, mengkiritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digaungkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Hasto menyebut, MBG yang dicanangkan Prabowo berbeda dengan buku ‘Mustika Rasa’ yang digagas pemerintahan Presiden pertama RI Soekarno.
Menurutnya, Mustika Rasa yang mengulas resep kuliner nusantara disusun melalui kajian mendalam selama kurang lebih tujuh tahun.
Ia menyebut, konsep tersebut berbeda dengan MBG yang dijalankan secara terpusat dan berpotensi menggeser alokasi anggaran sektor lain, termasuk pendidikan.
“Mustika Rasa ini mengandung knowledge. Ini adalah MBG versi Soekarno. Tetapi bukan dengan proyek nasional dengan mengalihkan dana pendidikan, no!,” kata Hasto dalam peluncuran Millennium Public Pulse 28 di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta, Selasa (28/7).
Ia menekankan, seharusnya program pemerintah didasari atas suara rakyat. Hal itu sebagaimana tercermin dalam buku Mustika Raya yang digagas Bung Karno.
“Dengan membangun kesadaran rakyat, menyajikan data informasi bahwa kalau kita makan daun kelor, daun pepaya, umbi-umbian, kita akan sehat. Di sini sudah dikaji dengan cara MBG yang memberdayakan rakyat Indonesia,” tegasnya.
Hasto berharap, Millennium Public Pulse 28 tidak hanya menjadi ruang diskusi di lingkungan Sekolah Partai. Ia mendorong para pengelolanya aktif turun ke lapangan guna menyerap langsung aspirasi masyarakat.
Ia menekankan, forum tersebut perlu hadir di warung kopi, taman kota, pasar tradisional, sentra UMKM, hingga ruang-ruang kebudayaan agar mampu memahami persoalan yang dihadapi generasi muda, terutama terkait lapangan pekerjaan dan peningkatan kapasitas diri.
“Public Pulse ini nanti akan mengangkat kisah inspiratif dan best practices dari tokoh-tokoh kalangan rakyat biasa, budayawan, seniman, dan artis yang berjuang dengan jatuh bangun demi membuat legacy bagi masa depannya di luar batas-batas geografis maupun sekat partai politik,” pungkasnya. (jpg/yud)
