BANDARLAMPUNG — Maraknya kasus dugaan penipuan yang melibatkan wedding organizer (WO) di berbagai daerah menjadi perhatian serius berbagai pihak.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bagi calon pengantin (catin) agar lebih selektif dalam memilih vendor pernikahan, sekaligus menjadi tantangan bagi pelaku usaha untuk menjaga kepercayaan konsumen.
Belum lama ini, ratusan catin dilaporkan menjadi korban dugaan penipuan yang dilakukan WO Ayu Puspita di Jakarta dengan nilai kerugian yang disebut mencapai belasan miliar rupiah.
Sebelumnya, kasus serupa juga terjadi pada Marwah Catering dan WO yang menyebabkan puluhan pasangan gagal mendapatkan layanan pernikahan meski telah melunasi pembayaran.
Modus yang digunakan umumnya menawarkan paket pernikahan dengan harga murah dan berbagai promo menggiurkan.
Namun pada akhirnya, acara pernikahan tidak terlaksana sesuai kesepakatan sehingga menimbulkan kerugian bagi para calon pengantin.
Menanggapi fenomena tersebut, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Lampung, Agnesia Bulan Marindo, mengimbau seluruh pelaku usaha wedding organizer di Lampung untuk menjadikan kasus-kasus tersebut sebagai pelajaran penting dalam menjalankan usaha secara profesional dan penuh tanggung jawab.
Imbauan itu disampaikan Agnesia saat ditanya awak media usai membuka Wedding Fair 2026 bertajuk From Bismillah To Sakinah yang berlangsung di Ballroom Masjid Raya Al-Bakrie Lampung, Jumat (12/6).
“Maraknya kasus penipuan yang mungkin terjadi di daerah lain harus menjadi pelajaran bagi kita semua. Hal ini sekaligus menjadi tantangan bagi kita untuk bekerja secara lebih amanah,” ujar Agnesia.
Menurutnya, para calon pengantin telah memberikan kepercayaan besar kepada vendor pernikahan untuk mengelola salah satu momen paling penting dalam hidup mereka. Karena itu, kepercayaan tersebut harus dijaga dengan sebaik-baiknya.
“Para calon pengantin ini sudah memberikan kepercayaannya kepada kita, sehingga kita harus menjaganya seamanah mungkin. Ini juga menjadi tantangan bagi para vendor untuk semakin berupaya memberikan pelayanan yang terbaik bagi para calon pengantin,” katanya.
Agnesia menilai penyelenggaraan Wedding Fair 2026 tidak hanya menjadi ajang promosi produk dan jasa pernikahan, tetapi juga sarana edukasi bagi masyarakat dalam memilih vendor yang memiliki rekam jejak dan kredibilitas yang jelas.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut menjadi wadah yang mempertemukan kreativitas, inovasi, dan kolaborasi berbagai pelaku usaha di industri pernikahan. Mulai dari wedding organizer, dekorasi, tata rias, busana pengantin, fotografer, hingga pelaku usaha kuliner.
“Melalui kegiatan seperti wedding fair inilah, kita dapat menjadikannya sebagai sarana edukasi sekaligus inspirasi bagi para calon pengantin dalam mempersiapkan masa depan keluarga yang kuat dan berkualitas,” ujarnya.
Selain itu, Agnesia juga mengapresiasi kontribusi para pelaku usaha di sektor industri kreatif pernikahan yang selama ini turut menggerakkan perekonomian daerah.
Menurutnya, industri pernikahan memiliki potensi besar dalam menciptakan lapangan kerja, memberdayakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sekaligus mempromosikan budaya serta kearifan lokal Lampung kepada masyarakat luas.
“Kami juga berharap semakin banyak kolaborasi yang terjalin antara pelaku usaha, pemerintah, organisasi masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Hal ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif sekaligus memperkuat nilai-nilai keluarga yang menjadi fondasi pembangunan bangsa,” katanya.
Pada kesempatan itu, Agnesia juga menilai Ballroom Masjid Raya Al-Bakrie Lampung dapat menjadi alternatif lokasi penyelenggaraan pernikahan yang representatif bagi masyarakat.
“Acara ini membuka ruang bagi para vendor dan menjadi alternatif baru. Ini menjadi alternatif baru sebagai tempat pernikahan karena menyediakan fasilitas-fasilitas yang tentu saja sangat mendukung untuk dijadikan tempat resepsi pernikahan,” ujarnya.
Wedding Fair 2026 sendiri berlangsung pada 12–14 Juni 2026 di Ballroom Masjid Raya Al-Bakrie Lampung. (pip/c1/yud)