Oleh: Asroni Paslah *
Peringatan Hari Ulang Tahun Kota Bandar Lampung ke-344 pada 17 Juni 2026 menjadi momentum penting untuk melakukan refleksi terhadap arah pembangunan kota yang telah berjalan selama ini. Sebagai ibu kota Provinsi Lampung, Bandar Lampung telah mengalami perkembangan yang cukup pesat dalam berbagai bidang. Pertumbuhan ekonomi terus bergerak, kawasan perkotaan semakin berkembang, dan berbagai pembangunan infrastruktur terus dilakukan untuk mendukung aktivitas masyarakat.
Atas berbagai capaian tersebut, tentu patut diberikan apresiasi kepada seluruh elemen masyarakat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan para pemangku kepentingan yang telah berkontribusi membangun Bandar Lampung hingga menjadi seperti saat ini. Namun, peringatan hari jadi sebuah kota tidak semestinya hanya menjadi ajang perayaan. Momentum ini juga harus menjadi ruang evaluasi untuk melihat apa yang sudah dicapai dan apa yang masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Pertanyaan mendasar yang perlu kita ajukan adalah apakah pembangunan yang telah dilakukan benar-benar telah meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara merata? Apakah pendidikan dan kesehatan sebagai hak dasar warga telah memperoleh perhatian yang seimbang dengan pembangunan fisik yang selama ini terlihat?
Pertanyaan tersebut penting karena dalam perspektif pembangunan modern, keberhasilan sebuah daerah tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau banyaknya infrastruktur yang dibangun. Teori Human Development yang diperkenalkan Mahbub ul Haq dan dikembangkan Amartya Sen menempatkan manusia sebagai tujuan utama pembangunan. Dengan kata lain, ukuran keberhasilan pembangunan sesungguhnya terletak pada kualitas hidup masyarakat, terutama dalam aspek pendidikan dan kesehatan.
Dalam konteks pemerintahan daerah, pelayanan dasar merupakan kewajiban yang harus dipenuhi negara kepada masyarakat. Pendidikan dan kesehatan bukan sekadar program pembangunan, melainkan hak konstitusional yang harus dijamin ketersediaan, aksesibilitas, dan kualitasnya.
Sebagai ibu kota provinsi, Bandar Lampung seharusnya menjadi wajah terbaik pelayanan publik di Lampung. Namun berbagai data menunjukkan bahwa sektor pendidikan dan kesehatan masih menghadapi tantangan yang perlu mendapat perhatian serius.
Data dalam RPJMD Kota Bandar Lampung Tahun 2025–2029 menunjukkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Bandar Lampung terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2020, IPM Bandar Lampung berada pada angka 77,44 dan meningkat menjadi 80,46 pada tahun 2024. Capaian ini tentu membanggakan karena menunjukkan adanya kemajuan dalam pembangunan manusia.
Namun, tingginya angka IPM tidak boleh membuat kita berpuas diri. Di balik capaian tersebut masih terdapat berbagai persoalan mendasar yang perlu segera dibenahi.
Pada sektor pendidikan, Bandar Lampung memiliki sekitar 12.700 tenaga pendidik pada jenjang PAUD, SD, dan SMP. Rasio guru terhadap siswa juga relatif baik. Pada jenjang PAUD rasio guru terhadap siswa mencapai 1:9,31, pada SD sebesar 1:15,66, dan pada SMP sebesar 1:12,16. Data tersebut menunjukkan bahwa secara kuantitas ketersediaan tenaga pendidik cukup memadai.
Namun kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh jumlah guru. Sarana dan prasarana pendidikan juga menjadi faktor penting dalam menciptakan proses pembelajaran yang berkualitas. RPJMD Kota Bandar Lampung mencatat masih terdapat 104 ruang kelas dalam kondisi rusak ringan dan 25 ruang kelas dalam kondisi rusak sedang hingga berat.
Angka tersebut mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan jumlah sekolah yang ada. Namun bagi siswa yang setiap hari belajar di ruang kelas yang kurang layak, persoalan tersebut bukan sekadar statistik. Kondisi fisik sekolah yang kurang memadai dapat memengaruhi kenyamanan belajar dan kualitas pendidikan yang diterima peserta didik.