JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menyoroti masih besarnya kebocoran kekayaan negara. Ia mengaku terkejut dan prihatin usai menerima berbagai data sejak memimpin Indonesia.
“Saya baru kurang lebih 18 bulan memimpin pemerintahan. Saya sendiri shock, terkejut, sedih melihat berapa besar kekayaan kita yang hilang selama ini. Ini bukan kita cari kesalahan, kita anggaplah ini suatu kelalaian kita bersama,” ujar Prabowo saat menutup Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2026, di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6).
Ia menegaskan sebagai kepala negara disumpah untuk menjaga kepentingan bangsa dan rakyat, sehingga berkomitmen melakukan langkah-langkah terbaik untuk menghentikan kebocoran kekayaan negara.
Prabowo menyampaikan, dirinya baru saja meresmikan ruas jalan sepanjang 1.151 kilometer dengan anggaran Rp5,4 triliun. Jalan yang bisa dibangun akan lebih panjang apabila tidak ada kebocoran kekayaan negara.
Menurutnya, anggaran yang bocor tersebut tersebut seharusnya dapat dimanfaatkan lebih besar untuk pembangunan fasilitas publik seperti jalan, jembatan, sekolah, hingga transportasi. Namun, masih banyak kebocoran anggaran yang menyebabkan potensi pembangunan hilang begitu saja.
Prabowo menegaskan, pemerintahan di bawah kepemimpinannya berkomitmen untuk memperbaiki kondisi tersebut, termasuk menindak pelanggaran pemanfaatan sumber daya alam.
Ia mengungkapkan, pemerintah telah mengambil kembali lebih dari 5 juta hektare lahan perkebunan kelapa sawit yang melanggar aturan, termasuk yang berada di kawasan hutan lindung dan tidak memiliki izin sesuai ketentuan.
Selain itu, ratusan tambang ilegal juga telah ditutup sebagai bagian dari penegakan hukum dalam sektor sumber daya alam.
Ia menegaskan, upaya pemberantasan kebocoran kekayaan negara bukanlah pekerjaan ringan, mengingat besarnya wilayah dan sumber daya Indonesia.
Karena itu, ia menekankan pentingnya pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi agar kekayaan negara benar-benar dapat dimanfaatkan untuk rakyat.
“Tidak boleh ada korupsi di pemerintah Republik Indonesia. Ini tidak ringan, tetapi harus kita kerjakan supaya negara kita selamat,” tegasnya.
“Kenapa gaji guru tidak bisa baik? Kenapa gaji pegawai negeri tidak bisa baik? Kenapa anggaran selalu kurang? Karena uangnya tidak ada, diambil terus. Kebocoran kita, kita hitung, para ahli hitung sekarang kurang lebih USD150 miliar setiap tahun atau Rp2.500 triliun setiap tahun. Dan ini sedang saya perbaiki semua,” tegas Prabowo.
Dia juga menyoroti jumlah besar badan usaha milik negara (BUMN) yang dinilainya perlu ditata ulang agar lebih efisien dan tidak membebani keuangan negara. Ia menyebut proses penertiban mulai dilakukan dengan penutupan ratusan perusahaan yang tidak sehat secara bisnis.
Ia menambahkan, efisiensi tersebut memberikan dampak signifikan terhadap penghematan anggaran negara, termasuk dari pengurangan struktur manajemen di perusahaan-perusahaan yang tidak produktif.
Dalam kesempatan yang sama, Prabowo juga kembali menyinggung ketimpangan hasil pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, meski secara angka ekonomi tumbuh, manfaatnya belum dirasakan secara merata oleh masyarakat.
Prabowo menilai kondisi tersebut sebagai anomali yang menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam sistem ekonomi nasional. Ia menekankan perlunya perbaikan menyeluruh agar pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan lebih adil oleh seluruh lapisan masyarakat. (beritasatu/c1/yud)
