JAKARTA – Kelapa sawit diproyeksikan tetap menjadi komoditas unggulan yang berperan penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus memenuhi permintaan minyak nabati dunia yang terus mengalami peningkatan.
Kepala Pusat South East Asia Food and Agriculture Science & Technology (SEAFAST) Center IPB University, Puspo Edi Giriwono, menyampaikan Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia.
Saat ini, produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Indonesia mencapai sekitar 53 juta ton setiap tahun. Jumlah tersebut dinilai lebih dari cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan minyak nabati di dalam negeri.
Selain mampu mencukupi kebutuhan nasional, Indonesia juga masih memiliki kelebihan produksi yang berkontribusi besar terhadap pasokan minyak nabati di pasar internasional.
“Minyak sawit Indonesia mampu memenuhi kebutuhan nasional hingga 100 persen. Bahkan produksinya masih surplus sehingga dapat memasok kebutuhan minyak nabati dunia,” ujar Puspo di Jakarta, Minggu (5/7).
Menurutnya, peran kelapa sawit akan semakin penting pada masa mendatang. Seiring meningkatnya jumlah penduduk dunia yang diperkirakan mencapai 10 hingga 11 miliar jiwa pada 2050, kebutuhan minyak nabati global diprediksi melonjak hingga sekitar 250 juta ton setiap tahun. Di sisi lain, luas lahan pertanian terus menghadapi keterbatasan. Karena itu, peningkatan produktivitas perkebunan sawit dinilai menjadi solusi paling efektif untuk memenuhi kebutuhan tersebut tanpa harus membuka lahan baru yang berisiko memicu deforestasi.
“Komoditas apa yang tetap mampu menghasilkan produktivitas tinggi ketika lahan semakin terbatas? Kelapa sawit menjadi jawabannya untuk memenuhi kebutuhan populasi dunia yang mencapai 10 hingga 11 miliar jiwa,” jelasnya.
Tidak hanya memiliki keunggulan dari sisi produksi, Puspo juga menilai Indonesia perlu mempercepat pengembangan industri hilir berbasis sawit. Upaya tersebut penting agar Indonesia tidak hanya dikenal sebagai pengekspor bahan mentah, tetapi juga sebagai penghasil produk pangan bernilai tambah tinggi.
Saat ini minyak sawit telah digunakan sebagai bahan baku berbagai produk pangan, seperti minyak goreng, margarin, cokelat, hingga beragam makanan olahan. Meski demikian, peluang pengembangan produk turunannya masih terbuka sangat lebar.
Ia mencontohkan sejumlah industri pangan di luar negeri yang mampu mengolah bahan baku melalui sekitar 10 tahapan lanjutan sehingga menghasilkan produk yang lebih spesifik dengan nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi.
“Hampir semua makanan yang dikonsumsi masyarakat mengandung minyak sawit. Hal itu karena minyak sawit sangat fleksibel penggunaannya dan memiliki harga yang relatif terjangkau,” katanya.
Dalam mendukung percepatan hilirisasi, pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) telah menggulirkan Program Pangan dan Hilirisasi. Program tersebut difokuskan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sawit melalui dukungan pendanaan riset, pembangunan infrastruktur, serta penguatan kemitraan dengan pelaku industri.
Melalui program tersebut, Indonesia diharapkan semakin memperkuat posisinya sebagai pusat industri kelapa sawit yang berkelanjutan, inovatif, dan memiliki daya saing tinggi, khususnya di sektor pangan.
Puspo menambahkan, salah satu produk yang memiliki prospek besar untuk terus dikembangkan ialah minyak sawit merah atau red palm oil. Produk ini kaya akan antioksidan, betakaroten, dan vitamin E sehingga dinilai memiliki manfaat besar bagi kesehatan sekaligus menawarkan nilai ekonomi yang menjanjikan.(disway/nca)
