BANDARLAMPUNG – Program Siger Puakhi, layanan pengantaran obat untuk pasien rawat jalan yang diinisiasi Direktur RSUD dr. Hi. Abdul Moeloek (RSUDAM) Lampung, dr. Imam Ghozali, dinilai mampu menjadi solusi mengurangi antrean pengambilan obat.
Namun, rumah sakit diingatkan menyiapkan sistem pelacakan pengiriman dan standar operasional yang kuat agar pelayanan tetap tepat sasaran dan berkualitas.
Pengamat kebijakan publik Universitas Lampung (Unila) Vincensius Soma Ferrer mengatakan program Siger Puakhi merupakan langkah positif dalam menjawab persoalan yang selama ini kerap terjadi di instalasi kefarmasian, yakni antrean panjang saat pasien menunggu obat selesai disiapkan.
"Kalau kita lihat, ikhtiar program ini sudah sangat baik. Ini merupakan salah satu upaya untuk menjawab persoalan di instalasi kefarmasian, yakni seringnya terjadi antrean panjang saat proses pengambilan obat. Hal pertama yang perlu kita berikan adalah apresiasi kepada pihak penyelenggara rumah sakit yang telah berusaha menjawab kebutuhan publik," ujarnya.
Melalui Program Siger Puakhi, pasien tidak perlu lagi menunggu proses peracikan obat di rumah sakit. Setelah resep selesai diproses, obat akan diantarkan langsung ke alamat tujuan dengan biaya layanan sebesar Rp8.000.
Menurut Soma Ferrer, tarif tersebut tergolong terjangkau sehingga membuka akses layanan bagi lebih banyak masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan menengah ke bawah.
"Dengan biaya Rp8.000, layanan ini relatif sangat terjangkau bagi masyarakat. Ini langkah yang cukup baik karena layanannya bisa menjangkau semua kalangan, khususnya kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah," katanya.
Meski memberikan apresiasi, ia menegaskan keberhasilan program tidak hanya diukur dari kemudahan layanan, tetapi juga dari kesiapan sistem yang mendukung proses pengantaran obat.
Karena itu, RSUDAM perlu memastikan standar operasional prosedur (SOP) dan akuntabilitas pelayanan telah disiapkan secara matang.
Salah satu hal yang dinilai penting adalah keberadaan sistem pelacakan atau tracking system yang mampu memastikan obat diterima oleh pasien yang tepat.
Sistem tersebut harus memuat identitas penerima, kejelasan alamat, hingga kepastian siapa yang menerima obat di lokasi tujuan.
"Pelayanan ini tidak boleh hanya dilihat sebagai layanan kurir semata, melainkan sebagai sebuah ekosistem pelayanan kesehatan yang benar-benar berorientasi pada kemudahan penggunanya atau pasien," tegasnya.
