Sementara untuk tenaga kerja sepenuhnya ditanggung secara bersama-sama oleh warga setempat tanpa upah.
"Biayanya dari warga ya hasilnya kembali untuk warga itu sendiri," tambahnya.
Untuk memenuhi kebutuhan material, warga menggunakan dua cara utama.
Pertama, patungan door to door ke setiap rumah.
Kedua, melalui kegiatan "jimpitan" rutin yang dilakukan di beberapa dusun. Dana yang terkumpul kemudian digunakan untuk membeli material.
"Alhamdulillah warga sangat antusias. Yang punya rezeki lebih ikut lebih, yang tidak bisa tenaga. Semua bahu-membahu," ungkap Rahmat Suwondo dari Pemuda Garda Nogosari Dusun 15.
Upaya swadaya warga ini juga mendapat respon positif dari Pemkab Lampung Timur hingga Pemerintah Kecamatan setempat.
Bentuk dukungannya berupa peminjaman 2 unit Molen untuk mengaduk material, serta bantuan semen di beberapa titik lokasi pembangunan.
"Pemda suport dengan meminjamkan dua Molen pengaduk material juga bantuan semen di beberapa titik lokasi," kata mereka.
Dukungan ini menjadi penyemangat tambahan bagi warga untuk terus melanjutkan pembangunan secara bertahap.
Warga mengakui setiap tahun Pemerintah Daerah Lampung Timur juga merealisasikan program infrastruktur di Desa Bandar Agung. Tahun lalu, realisasi pembangunan jalan di desa ini sepanjang 2 KM melalui anggaran pemerintah.
"Pemerintah tetap hadir. Tahun kemarin ada 2 KM lebih jalan aspal lataston yang telah dibangun ditambah onderlagh. Nah, sisanya kami kejar dengan swadaya agar lebih cepat bisa dinikmati bersama," jelas Kyai Abdul Manan.
