INTERNET MUDAH, PLAGIARISME MENGUAT DI KALANGAN PELAJAR

Yuda Pranata - Selasa, 21 Apr 2026 - 20:32 WIB
Dwi Rahma Safitri,  Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Lampung, Angkatan 2025
Dwi Rahma Safitri,  Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Lampung, Angkatan 2025 - Foto Istimewa

Follow Us:

Google News Radar Lampung Radar Lampung WhatsApp Channel
Advertisements

Oleh: Dwi Rahma Safitri

(Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Lampung, Angkatan 2025)

Kemudahan akses internet membawa dampak ganda bagi pelajar. Di satu sisi, informasi dapat diperoleh dengan cepat melalui berbagai situs digital. Materi pelajaran, referensi tugas, hingga contoh jawaban tersedia luas dan mudah diakses.

Namun di sisi lain, praktik plagiarisme semakin marak seiring terbukanya akses tersebut. Kemudahan ini tidak selalu diiringi dengan pemahaman yang baik tentang etika akademik.

Advertisements

Perkembangan teknologi telah mengubah pola belajar pelajar. Tugas sekolah yang sebelumnya banyak bersumber dari buku kini beralih ke internet. Sayangnya, banyak pelajar yang memanfaatkan kemudahan ini dengan cara instan, yaitu menyalin jawaban tanpa mencantumkan sumber.

Dalam praktiknya, siswa sering kali hanya mencari jawaban melalui mesin pencari, lalu menyalinnya secara mentah tanpa memahami isi materi. Ketika diminta menjelaskan kembali, mereka kesulitan karena tidak benar-benar menguasai tugas yang dikumpulkan.

Fenomena ini diperkuat oleh sejumlah penelitian. Sari dan Nugroho (2022) yang menemukan bahwa sekitar 65% siswa pernah melakukan plagiarisme dalam bentuk menyalin dari internet.

Penelitian Putri, Widodo, dan Lestari (2023) menunjukkan bahwa kemudahan akses digital dan tekanan tugas menjadi faktor utama yang mendorong perilaku tersebut.

Advertisements

Selain itu, Rahmawati (2021) mengungkapkan bahwa rendahnya literasi digital membuat pelajar belum memahami batasan antara mengambil referensi dan melakukan plagiarisme.

Beberapa faktor lain turut memperparah kondisi ini, seperti kemudahan copy-paste, keterbatasan waktu, serta minimnya pengawasan dari guru maupun orang tua. Akibatnya, pelajar terbiasa mengandalkan jalan pintas dalam menyelesaikan tugas.

Kebiasaan ini berdampak serius, di antaranya menurunnya kemampuan berpikir kritis dan keterampilan menulis. Selain itu, nilai kejujuran akademik juga semakin tergerus.

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan langkah yang tepat. Salah satu cara yang dapat digunakan yaitu edukasi literasi digital dan etika akademik harus diperkuat sejak dini.

Share:
Editor: Yuda Pranata
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements
Yamaha

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements