Sementara itu, tahap penjurian akhir yang menentukan karya terpilih untuk dipentaskan akan melibatkan Garin Nugroho, Toto Arto, dan Bakti Budaya Djarum Foundation.
Garin Nugroho dikenal sebagai sutradara, penulis, dan budayawan yang konsisten menghadirkan karya-karya sinema dan pertunjukan berbasis narasi budaya Indonesia di tingkat nasional hingga internasional.
Sementara Toto Arto merupakan praktisi seni pertunjukan yang telah lama berkecimpung dalam pengembangan produksi dan manajemen pertunjukan di Indonesia.
Keterlibatan para praktisi seni berpengalaman ini diharapkan dapat memperkuat kualitas artistik sekaligus kesiapan produksi karya yang terpilih.
“Ruang Kreatif Seni Pertunjukan Indonesia menurut saya jadi inisiatif yang penting karena bukan hanya memberi ruang, tapi benar-benar merawat tumbuhnya seniman muda. Di sini, ide dan praktik mereka punya kesempatan untuk berkembang dan dikenal lebih luas, bahkan hingga ke level internasional. Yang menarik, program ini tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tapi juga pada proses, bagaimana ruang belajar yang kritis, dialog yang terbuka, dan dokumentasi bisa berjalan beriringan. Hal-hal seperti ini yang justru memperkaya perjalanan seni pertunjukan kita. Saya percaya, selama ruang-ruang seperti ini terus dijaga dan dikembangkan, ekosistem seni kita akan semakin hidup, inklusif, dan punya relevansi yang kuat dengan perkembangan zaman,” tutur Keni Soeriaatmadja.
Dengan hadirnya kembali program ini, Bakti Budaya Djarum Foundation berharap dapat menjadi katalis bagi lahirnya karya-karya inovatif sekaligus memperkuat jaringan antar pelaku seni di seluruh Indonesia.
“Kedepannya, kami berharap semakin banyak komunitas yang tidak hanya mampu berkarya, tetapi juga memiliki sistem kerja yang kuat dan berkelanjutan. Ekosistem seni pertunjukan yang sehat hanya bisa terbangun jika seluruh elemennya, mulai dari seniman, manajer, hingga audiens bertumbuh bersama. Dan kami di Bakti Budaya Djarum Foundation berupaya untuk mewujudkan hal tersebut,” tutup Renitasari. (*)
