JAKARTA – Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan menegaskan pentingnya aspek manajerial dan kepemimpinan dalam menjaga keberlangsungan perusahaan di tengah krisis. Pemimpin dinilai harus mampu mengambil keputusan cepat dan tepat, termasuk melakukan efisiensi di berbagai lini.
Hal itu disampaikan Dahlan dalam Seminar Publik bertajuk Manajemen Krisis Perusahaan di Tengah Ketidakpastian Global yang digelar Program Studi Doktor Ilmu Manajemen Universitas Paramadina di Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.
“Kalau para karyawan tidak paham sedang terjadi krisis, pemimpin yang harus memberikan sinyal jika lagi krisis. Caranya, memangkas bidang atau divisi-divisi yang tidak perlu. Bahkan, saat krisis 1998, saya meminta karyawan untuk tidak belanja hal-hal yang tidak perlu. Bahkan, sekadar membuat pagar rumah saja, saya larang,” kata Dahlan Iskan.
Dahlan juga membagikan pengalamannya saat memimpin PLN pada periode 2009–2011. Ia mengakui tidak memiliki latar belakang di sektor kelistrikan saat kali pertama menjabat, sehingga memilih belajar langsung dari internal perusahaan.
“Saya minta syarat saat diminta Pak SBY jadi Dirut PLN. Jajaran direksi harus saya sendiri yang menentukan. Tidak boleh ada direktur titipan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana sulitnya jika setiap direksi memiliki bos sendiri-sendiri. Biarlah saya menjadi satu-satunya bos di PLN,” ujarnya.
Menurutnya, krisis akan semakin sulit dihadapi jika pimpinan dan karyawan tidak menyadari kondisi tersebut serta tetap menjalankan bisnis seperti biasa.
“Kepekaaan pimpinan saat krisis tidak hanya dalam konteks kepemimpinan perusahaan. Tetapi juga berlaku untuk kepemimpinan negara,” tambahnya.
Rektor Universitas Paramadina Didik J. Rachbini menilai pengalaman Dahlan Iskan penting sebagai bahan pembelajaran di dunia akademik, khususnya dalam ilmu manajemen.
“Transformasi yang dilakukan Pak Dahlan di PLN bisa dikaji dengan pendekatan teori-teori manajemen. Pengalaman empiris di dunia bisnis akan memperkaya khasanah keilmuan di bidang manajemen,” kata Didik.
Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas pendidikan, termasuk jumlah doktor, untuk mendorong inovasi dan daya saing ekonomi nasional.
“Ciri negara maju memiliki lebih 1 persen dari total penduduknya doktor. Mengapa harus doktor? Untuk mendorong inovasi dan daya saing ekonomi. Doktor bukan sekadar akademisi, tetapi Peneliti di industri (R&D), policy designer di pemerintah, dan juga konsultan strategis,” jelasnya.
Ketua Program Studi Doktor Ilmu Manajemen Universitas Paramadina, Ahmad Badawi Saluy, menambahkan bahwa kehadiran tokoh seperti Dahlan Iskan memberikan perspektif praktis yang penting bagi dunia akademik.
