Kepala Biro Radar Lampung di Lampung Selatan ini menjelaskan, para peserta dibekali pemahaman mengenai bahasa jurnalistik yang efektif, etika bermedia, serta strategi publikasi organisasi melalui media sosial.
Tak hanya itu, aspek etika menjadi perhatian utama. Peserta didorong untuk memahami tanggung jawab moral dalam menyebarkan informasi, sehingga setiap publikasi organisasi dapat memberikan manfaat dan tidak menimbulkan dampak negatif di tengah masyarakat.
Yuda menilai kemampuan jurnalistik menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam menghadapi tantangan era digital yang dipenuhi arus informasi tanpa batas.
Menurutnya, mahasiswa sebagai agen perubahan harus mampu menjadi produsen informasi yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab, bukan sekadar menjadi konsumen media sosial.
“Jurnalistik mengajarkan mahasiswa untuk berpikir sistematis, melakukan verifikasi, menghargai fakta, serta menyampaikan informasi secara objektif. Keterampilan ini sangat dibutuhkan dalam membangun karakter kepemimpinan yang berintegritas,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Redaktur Pelaksana media Radar Lampung ini.
Ia menambahkan, organisasi kemahasiswaan saat ini dituntut mampu mengelola publikasi secara profesional agar berbagai kegiatan, gagasan, dan aspirasi mahasiswa dapat tersampaikan kepada masyarakat dengan baik.
“Di tengah maraknya hoaks dan disinformasi, mahasiswa harus menjadi garda terdepan dalam menyebarkan informasi yang benar dan mencerahkan. Karena itu, materi jurnalistik dalam LDK bukan sekadar belajar menulis berita, tetapi juga membentuk etika, tanggung jawab, dan kemampuan literasi digital,” katanya.