BANDARLAMPUNG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung mengimbau masyarakat
tidak mudah memercayai maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK).
Imbauan ini disampaikan menyusul beredarnya video berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang menampilkan GAK seolah-olah terus-menerus menyemburkan api.
Analis Bencana BPBD Lampung Wahyu Hidayat menegaskan bahwa hingga Senin (6/7), status GAK masih berada pada level III (siaga) berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Menurut Wahyu, aktivitas erupsi memang masih terjadi. Namun, masyarakat diminta selalu melakukan verifikasi terhadap setiap informasi yang beredar di media sosial.
"Erupsi memang terjadi. Namun saya mengingatkan masyarakat untuk selalu melakukan check and recheck terhadap informasi yang beredar. Baru-baru ini ada video bombastis yang memperlihatkan Gunung Anak Krakatau terus-menerus menyemburkan api. Itu merupakan video buatan AI dan dipastikan hoaks," ujar Wahyu saat ditemui di Lobi Kantor Gubernur Lampung, Senin (6/7/2026).
Ia mengatakan BPBD telah berkoordinasi dengan Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargo Pancuran. Hasil verifikasi memastikan video yang viral tersebut tidak menggambarkan kondisi sebenarnya.
"Setiap kali isu Krakatau meningkat, biasanya muncul video-video lama atau hasil editan yang kemudian diklaim sebagai kondisi terkini. Karena itu masyarakat jangan mudah percaya sebelum memastikan sumber informasinya," katanya.
Wahyu juga meluruskan istilah yang kerap digunakan masyarakat terkait status aktivitas gunung api.
Menurutnya, status yang benar adalah Level III atau Siaga, bukan "Siaga 3".
"Tingkatan status gunung api dimulai dari Level I (Normal), Level II (Waspada), Level III (Siaga), hingga
Level IV (Awas)," jelasnya.
Ia menambahkan, meskipun berstatus Level III, hingga kini tidak dilakukan evakuasi karena Gunung Anak
Krakatau berada di tengah laut. Kondisi tersebut berbeda dengan gunung api di daratan yang pada
status serupa umumnya sudah diikuti proses evakuasi warga di kawasan rawan.
BPBD juga memastikan belum ada masyarakat yang mengungsi. Sebanyak 15 desa di pesisir Kabupaten
Lampung Selatan tetap siaga dan terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
"Di 15 desa tersebut telah terbentuk Desa Tangguh Bencana (Destana). Mereka terus berkomunikasi
dengan warga di Pulau Sebesi yang dapat memantau langsung kondisi Gunung Anak Krakatau, sehingga
informasi terbaru bisa segera diteruskan kepada masyarakat," ujarnya.
Terkait dampak aktivitas vulkanik, Wahyu mengatakan hingga saat ini belum ditemukan dampak
signifikan bagi masyarakat. Meski demikian, BPBD tetap mewaspadai potensi abu vulkanik yang dapat
memicu gangguan kesehatan.