"Apabila eskalasi aktivitas meningkat, kami akan mempertimbangkan pembagian masker. Debu vulkanik
memiliki partikel yang tajam sehingga berpotensi menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA),"
katanya.
Berdasarkan laporan PVMBG periode pengamatan pukul 06.00–12.00 WIB pada Senin (6/7/2026),
Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga). Asap kawah teramati berwarna putih dengan
intensitas tipis hingga tebal dengan ketinggian sekitar 10–100 meter di atas puncak.
Sementara itu, aktivitas kegempaan tercatat berupa satu kali gempa frekuensi rendah dan tremor
menerus dengan amplitudo dominan 1 milimeter.
PVMBG tetap merekomendasikan masyarakat, wisatawan, pengunjung, maupun pendaki untuk tidak
mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.
BPBD mengimbau masyarakat tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta hanya mengacu pada
informasi resmi dari PVMBG, BPBD, dan instansi pemerintah terkait agar tidak mudah terpengaruh
informasi palsu yang dapat memicu kepanikan.
Sebelumnya Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau (GAK) mengonfirmasi telah terjadi erupsi di
Gunung Anak Krakatau pada Rabu siang. Meski demikian, status aktivitas gunung api tersebut masih
berada pada Level II atau Waspada.
Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau, Andi Suwardi, mengatakan erupsi yang terjadi belum
mengubah status aktivitas gunung.
"Benar, siang tadi terjadi erupsi di Gunung Anak Krakatau. Statusnya masih Waspada atau Level II,
sehingga belum ada perubahan," kata Andi saat dikonfirmasi.
Menurutnya, aktivitas vulkanik yang terjadi masih tergolong normal dan masih berada dalam parameter
yang dipantau oleh petugas.
Andi menjelaskan erupsi tersebut dipicu oleh meningkatnya energi di dalam gunung yang mendorong
magma mendekati permukaan. Fenomena ini dikenal sebagai erupsi efusif, yakni keluarnya magma
berupa aliran lava secara perlahan tanpa disertai ledakan besar.
"Terjadi peningkatan energi yang cukup untuk mendorong magma ke permukaan. Magma keluar dalam
bentuk lelehan lava secara perlahan tanpa letusan eksplosif yang besar," jelasnya.
Meski kondisi masih relatif aman, masyarakat, nelayan, maupun wisatawan tetap diminta tidak
mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius dua kilometer dari kawah demi menjaga
keselamatan.
