PDIP Respons Santai Klaim PSI soal Jateng Jadi ‘Kandang Gajah’, Said Abdullah: Siapa yang Bikin Hoaks?

Agung Budiarto - Selasa, 07 Jul 2026 - 22:01 WIB
Ketua DPP PDIP Said Abdullah menepis klaim PSI yang menyebut Jawa Tengah akan menjadi “kandang gajah”. Pengamat politik menilai dominasi PDIP di provinsi tersebut masih sulit digoyahkan. -
Ketua DPP PDIP Said Abdullah menepis klaim PSI yang menyebut Jawa Tengah akan menjadi “kandang gajah”. Pengamat politik menilai dominasi PDIP di provinsi tersebut masih sulit digoyahkan. - - IST

Follow Us:

Google News Radar Lampung Radar Lampung WhatsApp Channel
Advertisements

JAKARTA – Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Said Abdullah merespons singkat pernyataan politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang menyebut Jawa Tengah bakal menjadi “kandang gajah” usai Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) melakukan safari politik.

Saat dimintai tanggapan oleh awak media di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (7/7), Said hanya menjawab singkat.

“Siapa yang bikin hoaks?” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua DPW PSI Jawa Tengah Antonius Yogo Prabowo mengaku telah melaporkan perkembangan konsolidasi partainya di Jawa Tengah kepada Jokowi.

Advertisements

Menurut Yogo, laporan tersebut merupakan bagian dari persiapan menjelang safari politik Jokowi ke sejumlah daerah di Jawa Tengah.

Ia menyebut salah satu target kunjungan itu adalah memperkuat basis dukungan PSI di provinsi tersebut.

“Yang jelas tugas kami hari ini mempersiapkan untuk bapak turun, untuk Bapak keliling Jateng memastikan bahwa Jateng benar-benar sebagai Kandang Gajah,” kata Yogo, Jumat (3/7).

Sementara itu, pengamat politik Jamiluddin Ritonga menilai upaya PSI menjadikan Jawa Tengah sebagai “kandang gajah” bukan perkara mudah. Pasalnya, provinsi tersebut selama ini dikenal sebagai basis utama PDIP atau “Kandang Banteng”.

Advertisements

“Tentu tidak mudah. Ada dua penyebab utamanya,” kata Jamiluddin.

Menurutnya, pengaruh politik Jokowi dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri memiliki karakter yang berbeda di Jawa Tengah.

“Jokowi lebih populis, sedangkan Megawati cenderung ideologis,” ujarnya.

Jamiluddin menjelaskan, pengaruh Jokowi lebih bersifat personal dan pragmatis, sehingga mampu mendongkrak elektabilitas dalam waktu relatif singkat. Namun, pengaruh tersebut dinilai tidak mengakar kuat di masyarakat.

Advertisements

Share:
Editor: Agung Budiarto
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements
Yamaha

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements