“Hubungan Jokowi dengan calon pemilih lebih bersifat sesaat. Pemilih dapat berpindah dukungan ketika mereka tidak lagi memperoleh manfaat ekonomi,” katanya.
Sebaliknya, Megawati dinilai memiliki basis dukungan yang dibangun melalui jaringan ideologis dan kultural PDIP yang telah mengakar sejak era Orde Baru.
“Pendekatan Megawati menciptakan hubungan yang kuat dengan massa pendukungnya. Hal itu menghasilkan pendukung yang militan,” ujarnya.
Atas dasar itu, Jamiluddin menilai pengaruh Jokowi yang bersifat populis masih belum mampu menggeser dominasi politik PDIP di Jawa Tengah.
Selain faktor tersebut, ia juga menyoroti hasil Pemilu Legislatif 2024 sebagai indikator kekuatan partai di daerah itu.
Menurutnya, PSI hanya memperoleh dua kursi di DPRD Jawa Tengah, sedangkan PDIP berhasil meraih 33 kursi.
“PSI hanya memperoleh dua kursi, sementara PDIP menyabet 33 kursi,” katanya.
Ia menilai raihan kursi yang minim menunjukkan PSI masih menghadapi tantangan besar untuk menjadikan Jawa Tengah sebagai basis politiknya, meski pada Pemilu 2024 telah mendapat efek kedekatan dengan Jokowi yang saat itu masih menjabat sebagai presiden.
“Jokowi saat itu masih memiliki modal politik, modal ekonomi, dan modal sosial. Namun, perolehan kursi PSI di DPRD Jawa Tengah tetap sangat sedikit,” pungkasnya. (jpnn/abd)
