JAKARTA - Indonesia dan China resmi memperkuat kolaborasi riset pengembangan prototype vaksin dengue tetravalen berbasis teknologi mRNA.
Proyek yang melibatkan Universitas Indonesia (UI), PT Etana Biotechnologies Indonesia, Tsinghua University, serta sejumlah lembaga riset ini diharapkan menjadi terobosan penting karena berpotensi melahirkan vaksin dengue mRNA pertama di dunia jika seluruh tahapan penelitian berhasil diselesaikan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pengembangan vaksin tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat kemandirian industri vaksin nasional melalui teknologi mutakhir.
Menurutnya, Indonesia masih membutuhkan sedikitnya 15 antigen baru yang dapat diteliti dan diproduksi sejak tahap awal di dalam negeri.
“Kalau penelitian ini berhasil, vaksin dengue ini akan menjadi antigen ke-16 yang diproduksi di Indonesia dengan teknologi mRNA. Ini menjadi lompatan besar bagi kemampuan riset dan industri vaksin nasional,” ujar Budi, di Jakarta, Rabu 8 Juli 2026.
Ia menjelaskan, riset tersebut masih berada pada tahap pra-klinis. Namun, hasil awal menunjukkan kemampuan pembentukan antibodi penetral terhadap empat serotipe virus dengue yang beredar di Indonesia lebih baik dibandingkan vaksin komersial yang telah tersedia.
Dalam enam bulan ke depan, tim peneliti menargetkan memasuki tahap pengujian efektivitas berikutnya.
Budi menambahkan, kerja sama dengan Tsinghua University telah dimulai sejak 2023. Pemilihan mitra tersebut didasarkan pada keunggulan keilmuan para penelitinya di bidang vaksin, dukungan pendanaan dari pemerintah China, serta keterlibatan industri dalam proses hilirisasi hasil riset.
Sementara itu, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar menegaskan BPOM akan mendampingi proses pengembangan sejak tahap awal, bukan hanya pada proses perizinan.
“Jangan menganggap BPOM hanya sebagai pemberi stempel. Kami harus dilibatkan sejak awal agar seluruh tahapan penelitian memenuhi standar ilmiah dan regulasi global. Jika berhasil, ini akan menjadi sejarah sebagai vaksin dengue mRNA pertama di dunia dan manfaatnya tidak hanya untuk Indonesia, tetapi juga masyarakat global,” kata Taruna.
Pemerintah berharap kolaborasi riset lintas negara tersebut dapat mempercepat lahirnya inovasi vaksin nasional sekaligus memperkuat ketahanan kesehatan Indonesia melalui penguasaan teknologi biomedis mutakhir. (disway/yud)
