Teheran — Sebanyak 3.375 warga Iran dilaporkan meninggal dunia akibat agresi militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari 2026.
Data tersebut disampaikan oleh Organisasi Kedokteran Forensik Iran, yang juga mengungkapkan bahwa sekitar 40 persen jenazah korban pada awalnya tidak dapat dikenali akibat dampak bom dan rudal.
Kepala Organisasi Kedokteran Forensik Iran, Abbas Masjedi, menyatakan bahwa selama 40 hari konflik berlangsung, sebagian besar korban merupakan warga sipil, termasuk anak-anak, lansia, serta pekerja di pusat-pusat administrasi.
“Sejak dimulainya agresi AS dan Israel pada 28 Februari hingga akhir 10 April, jumlah korban jiwa mencapai 3.375 orang. Dari jumlah tersebut, 2.875 merupakan laki-laki dan 496 perempuan,” ujar Masjedi seperti dilaporkan kantor berita Tasnim News Agency, Senin (20/4).
Ia juga menyebutkan bahwa hingga kini masih terdapat empat jenazah yang belum ditemukan karena tingkat kerusakan tubuh yang sangat parah.
Masjedi turut mengecam keras serangan udara yang menghantam sebuah sekolah dasar di kota Minab, Iran selatan, pada 28 Februari 2026, yang menewaskan lebih dari 160 anak-anak.
Menurutnya, jenis persenjataan yang digunakan menyebabkan banyak korban sulit dikenali. Meski demikian, tim forensik di berbagai wilayah, terutama di Teheran, Isfahan, dan Hormozgan, berhasil mengidentifikasi sebagian besar jenazah dan menyerahkannya kepada keluarga masing-masing.
Diketahui, serangan militer skala besar diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran tanpa adanya provokasi sejak akhir Februari lalu.
Dalam konflik tersebut, Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan militer senior dan warga sipil dilaporkan turut menjadi korban.
Serangan udara intensif menyasar berbagai titik, baik fasilitas militer maupun sipil di sejumlah wilayah Iran, sehingga menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar serta kerusakan infrastruktur yang luas.
Sebagai respons, angkatan bersenjata Iran melancarkan serangan balasan dengan menargetkan posisi Amerika Serikat dan Israel di wilayah pendudukan serta pangkalan-pangkalan militer regional menggunakan rudal dan drone.
Konflik tersebut sempat mereda setelah tercapai gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan pada 8 April 2026. Meski demikian, situasi di kawasan Timur Tengah masih diliputi ketegangan.
