DUALISME DEEP LEARNING: ANTARA INOVASI MURNI ATAU PARADIGMA PEMBELAJARAN YANG DIPAKSAKAN?

Yuda Pranata - Minggu, 31 Mei 2026 - 01:05 WIB
Dr. Eka Sofia Agustina, S.Pd., M.Pd.
Dr. Eka Sofia Agustina, S.Pd., M.Pd. - FOTO IST

Follow Us:

Google News Radar Lampung Radar Lampung WhatsApp Channel
Advertisements

 Oleh: Dr. Eka Sofia Agustina, S.Pd., M.Pd. (Dosen  FKIP Universitas Lampung)

 Deep Learning menjadi satu istilah yang sudah sejak lama mengganggu nalar berpikir penulis sepanjang pertama kali hal ini disampaikan oleh Bapak Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah yang terpublikasi sejak awal November 2024.  Kegelisahan berpikir muncul disebabkan tidak terdapatnya kata kunci pedagogis yang melekat pada dikeluarkannya istilah deep learning untuk pertama kali.  Maka, masyarakat luas secara bebas melebeli ini dengan nama kurikulum baru atau lainnya yang seolah akan mengganti Kurikulum Merdeka.  Baru setelah agak lama benturan pertanyaan ini muncul di publik, disampaikanlah bahwa deep learning ialah sebagai bagian dari sebuah konsep pendekatan. Dengan demikian, sejenak seolah memberi “ruang baru” tentang bagaimana pembelajaran dalam dimensi pendidikan terevolusi meski dalam pedoman aturan yang  sama yakni  Kurikulum Merdeka. 

 

Penulis membuka dengan kata kunci dualisme untuk merujuk pada istilah deep learning.  Alasannya bahwa jika kita secara mudah ingin mencari penjelasan mengenai deep learning pada mesin pencari (search engine) maka yang muncul ialah penjelasan bahwa deep learning memiliki 2 konteks pemaknaan. Pertama, deep learning merupakan cabang dari kecerdasan buatan (AI) dan machine learning yang menggunakan jaringan saraf tiruan berlapis-lapis untuk meniru cara kerja otak manusia. Teknologi ini memungkinkan komputer untuk belajar sendiri dari data dalam jumlah besar tanpa perlu diprogram secara manual untuk tugas tertentu. Dalam perspektif teknologi, deep learning merupakan cabang dari kecerdasan buatan yang bekerja melalui jaringan saraf tiruan (artificial neural network) untuk memungkinkan mesin komputer mengenali pola, menganalisis data, dan mengambil keputusan secara otomatis. Teknologi ini menjadi bagian penting dalam perkembangan software modern karena mampu meningkatkan kemampuan sistem digital dalam memproses informasi secara lebih cepat dan kompleks dibandingkan metode komputasi konvensional.

Advertisements

 

Kedua, istilah deep learning juga mulai dimaknai dalam ranah pedagogis sebagai pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam, berpikir kritis, reflektif, dan kemampuan mengaitkan pengetahuan dengan realitas kehidupan. Dalam konteks ini, deep learning tidak lagi hanya berbicara tentang mesin yang “belajar”, tetapi juga manusia yang membangun pemahaman secara mendalam melalui proses pendidikan. Dualisme makna tersebut menunjukkan bahwa deep learning berada di persimpangan antara inovasi teknologi dan paradigma pendidikan, sehingga memunculkan pertanyaan apakah keduanya dapat berjalan harmonis atau justru menimbulkan bias makna akibat perkembangan teknologi yang begitu dominan?

 

Baiklah, selanjutnya bahasan ini penulis lanjutkan pada definisi konseptual deep learning dalam dimensi pedagogis agar arah operasional dari konseptual tersebut menjadi selaras.  Dalam ruang pedagogis, konsep deep learning berakar pada teori pembelajaran yang menekankan pemahaman bermakna dan kemampuan berpikir tingkat tinggi, bukan sekadar hafalan. Salah satu rujukan utamanya berasal dari pemikiran Ference Marton dan Roger Säljö tahun 1976 melalui penelitian mereka mengenai pendekatan belajar mahasiswa. Salah satu karya pentingnya berjudul “On Qualitative Differences in Learning: I—Outcome and Process” yang diterbitkan dalam jurnal British Journal of Educational Psychology. Pemikiran mereka berdua membedakan surface learning dengan deep learning, yaitu proses belajar yang mendorong peserta didik memahami makna, menghubungkan konsep, dan melakukan refleksi kritis.

Advertisements

 

Konsep ini kemudian diperkuat oleh teori konstruktivisme dari Jean Piaget dan Lev Vygotsky yang memandang pengetahuan dibangun secara aktif melalui pengalaman dan interaksi sosial. Selain itu, gagasan pembelajaran mendalam juga berkaitan dengan Taksonomi Bloom dari Benjamin Bloom yang menempatkan kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta sebagai bentuk berpikir tingkat tinggi. Dengan demikian, deep learning dalam pedagogi dimaknai sebagai proses pembelajaran yang menghasilkan pemahaman komprehensif, reflektif, dan transformatif, berbeda dengan deep learning dalam dunia teknologi yang merujuk pada sistem kecerdasan buatan berbasis jaringan saraf tiruan.

 

Berdasarkan identifikasi dasar teori yang berada dalam komsep deep learning, sejatinya hal itu bukan sesuatu yang baru atau bahkan bukan teori baru karena dibangun dari ranting teori konstruktivisme, menaningful learning, inqury learning, dan reflective learning.  Dengan kata lain “baru pada istilah tetapi lama pada subtansi”.  Selanjutnya, dalam analisis pada rumusan Kurikulum Merdeka melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, deep learning lahir berdasarkan pada latar belakang perubahan masa depan yang sulit diprediksi; permasalahan mutu pendidikan, numerasi, keterampilan berpkir tingkat tinggi, dan ketimpangan pendidikan; bonus demografi 2035 dan visi Indonesia 2045; serta kompetensi masa depan.

Share:
Editor: Yuda Pranata
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements
Yamaha

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements