DUALISME DEEP LEARNING: ANTARA INOVASI MURNI ATAU PARADIGMA PEMBELAJARAN YANG DIPAKSAKAN?

Yuda Pranata - Minggu, 31 Mei 2026 - 01:05 WIB
Dr. Eka Sofia Agustina, S.Pd., M.Pd.
Dr. Eka Sofia Agustina, S.Pd., M.Pd. - FOTO IST

Follow Us:

Google News Radar Lampung Radar Lampung WhatsApp Channel
Advertisements

Advertisements

Selain itu, alasan mengapa perlu pembelajaran mendalam dipaparkan bahwa (1) keterlibatan: guru membangun keterlibatan peserta didik sebagai subjek belajar untuk memperoleh pengalaman belajar yang bermakna; (2) berkesadaran: guru lebih membangun kesadaran peserta didik untuk menjadi pembelajar yang aktif termotivasi secara intrinsik untuk belajar, serta aktif mengembangkan strategi belajar untuk mencapai tujuan; (3) memuliakan: guru dan peserta didik lebih sering menghargai dan menghormati potensi, martabat, dan nilai-nilai kemanusiaan; (4) pengembangan budaya belajar: guru lebih dapat mengembangkan kreativitas dan berinovasi, dan melibatkan peserta didik dalam mengembangkan pengalaman belajar; (5) pemanfaatam teknologi digital: guru dan peserta didik lebih dapat memanfaatkan teknologi digital untuk memberikan efisiensi dan efektiivitas pada perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran; dan (6) multi/interdisiplin ilmu pengetahuan, guru dam peserta didik lebih dapat menerapkan multi/interdisiplin ilmu pengetahuan dalam proses pembelajaran.   

Latar belakang yang dbangun sebagai fondasi berpikir untuk memunculkan istilah deep learning sebagai salah satu aksi paradigma pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka nampaknya juga kurang kokoh, terkesan rebranding konsep. Mengapa? Karena Indonesia telah mengalami penyempurnaan kurikulum sebanyak 11 kali sejak Kurikulum 1947.  Dari setiap penyempurnaan kurikulum selalu dibarengi dengan satu paradigma pembelajaran sebagai penciri epistemologisnya. 

Mulai dari separated subject curriculum pada Kurikulum 1947 (Rencana Pelajaran), pendekatan materi terstruktur untuk Kurikulum 1952 (Rencana Pelajaran Terurai), pancawardhana pada Kurikulum 1964, pendekatan pembinaan jiwa Pancasila pada Kurikulum 1968, lalu pendekatan instruksional pada Kurikulum 1975, CBSA pada Kurikulum 1984, pembelajaran berbasis kompetensi  (Competency-Based Learning) pada KBK 2004, pendekatan saintifik pada Kurikulum 2013, hingga konsep deep learning dalam Kurikulum Merdeka, semuanya hadir dengan terminologi dan narasi pembaruan yang berbeda. Namun, jika ditelaah secara filosofis, sebagian besar pendekatan tersebut sesungguhnya masih bertumpu pada akar teori pendidikan yang relatif sama, seperti konstruktivisme, pembelajaran aktif, dan student-centered learning.

Dalam konteks ini, perubahan kurikulum sering kali tampak lebih sebagai proses rebranding atau repackaging pedagogis daripada transformasi epistemologis yang benar-benar baru. Akibatnya, inovasi pendidikan terkadang bergerak pada perubahan istilah dan jargon kebijakan, sementara problem mendasar pendidikan seperti kualitas guru, kesenjangan fasilitas, dan kultur belajar belum sepenuhnya terselesaikan. Oleh karena itu, muncul pertanyaan kritis apakah konsep-konsep baru tersebut benar-benar merepresentasikan inovasi substantif, atau hanya reproduksi gagasan lama yang dikonstruksi ulang agar tampak relevan dengan tuntutan zaman dan perkembangan teknologi pendidikan kontemporer.

Advertisements

Selain masalah esensi subtansi epistemologisnya, terdapat pula sisi dualisme makna “Deep Learning” dalam bidang ilmu komputer/ AI bermakna jaringan saraf tiruan multilapir sedangkan dalam pendidikan bermakna pembelajaran mendalam (deep understanding) maka tulisan ini merujuk pada kajian kritis dan filosofis terhadap penggunaan istilah deep learning dalam pendidikan, khususnya dalam Kurikulum Merdeka serta perbandingannya dengan makna asli deep learning dalam ilmu komputer/AI.

Berdasarkan hal tersebut penulis memetakan 3 hal yaitu: bagaimanakah istilah teknologi dipinjam ke pendidikan? Terjadinya “hibridisasi epistemologis”. Dan, apakah pendidikan mulai memakai bahasa AI dan digitalisasi?  Dari situ lalu muncul pertanyaan: apakah ini perkembangan ilmiah alami atau pemaksaan paradigma teknologi ke pendidikan? Tentu untuk menjawab hal itu dibutuhkan landasan kajian teori filsafat ilmu yang di dalamnya terdapat eistemologi pendidikan dan kritik neoliberalisme pendidikan yang lebih komprehensif.  Mengapa ini perlu kaji? Alasannya sederhana yakni penggunaan istilah deep learning memiliki kemungkinan kemungkinan terjadinya bias makna secara konseptual.  Bisa tepat secara pedagogis, tetapi problematis secara terminologis. Mengapa? Karena secara teori pendidikan istilah itu valid, tetapi dalam konteks kontemporer istilah itu membawa bias makna dari ilmu komputer dan AI.

Istilah “deep learning” dalam pendidikan memiliki legitimasi pedagogis karena berakar pada teori pembelajaran mendalam Marton dan Säljö. Mengapa dianggap tepat? Istilah deep learning dianggap tepat karena secara makna pedagogis: “deep” bermakna mendalam dan “learning” bermakna pembelajaran. Sehingga pembelajaran mendalam  memiliki maksud memahami makna, bukan hafalan.

Namun, dalam konteks kontemporer, penggunaannya menjadi problematis akibat dominasi makna deep learning dalam ilmu komputer, sehingga memunculkan ambiguitas terminologis dan kritik terhadap kemungkinan rekonstruksi paradigma secara simbolik Pertanyaan pentingnya bukan:“benar atau salah?” melainkan:“mengapa penentu regulasi pendidikan memilih istilah itu sekarang?” Mungkin bisa dijawab memalui kajian: epistemologi, politik bahasa, dan konstruksi wacana pendidikan.

Advertisements

Lalu mengapa dipersoalkan? Karena di era modern, istilah deep learning lebih populer sebagai: teknologi AI dan neural network dalam ilmu komputer. Akibatnya terjadi: (1) Ambiguitas makna. Publik bisa bingung: ini pembelajaran manusia? atau teknologi AI? (2) Kesan “meminjam legitimasi teknologi”. Sebagian akademisi bisa menilai: pendidikan memakai istilah teknologi agar tampak modern dan inovatif. Ini yang membuat istilah tersebut tampak seperti:jargon, branding kebijakan, atau “repackaging”.  (3) Secara substansi bukan konsep baru.  Mengapa? Karena ide dasarnya sudah lama ada dalam yaitu konstruktivisme, meaningful learning, reflective learning, dan progressive education.

Ini sejalan dengan kritik paradigma pendidikan modern yang sering memakai: istilah baru, jargon global, branding akademik. Padahal, akar teorinya sudah lama ada. Munculah pertanyaan epistemologis bahwa apakah pendidikan harus mengikuti logika teknologi? Apakah manusia belajar seperti mesin? Dan apakah istilah “deep” pada AI dapat disejajarkan dengan pemahaman manusia? 

 

Dari semua yang saya tuliskan di atas, saya memosisikan 3 hal yaitu (1)  Posisi afirmatif “Deep learning pendidikan tetap relevan walaupun bukan konsep baru.” (2) Posisi kritis. “Istilah deep learning hanya rekonstruksi terminologi agar tampak inovatif.” Dan (3)  Posisi moderat “Ada unsur inovasi, tetapi juga ada repackaging teori lama.”

Share:
Editor: Yuda Pranata
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements
Yamaha

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements