JAKARTA - Sejumlah kapal Indonesia masih tertahan di sekitar Selat Hormuz akibat perang AS-Israel dengan Iran.
Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Arif Havas Oegroseno mengungkapkan alasannya kapal-kapal masih tertahan di sana karena asuransi.
Menurut Havas, banyak kapal memilih tidak berlayar melewati Selat Hormuz karena perusahaan asuransi menolak memberikan perlindungan terhadap risiko yang muncul di wilayah konflik tersebut.
“Dalam industri kapal, keputusan untuk navigasi dalam kondisi konflik itu pertama tentu ada jaminan dari negara yang berkonflik. Tapi ada satu lagi yang tidak banyak diketahui, yaitu asuransi. Saat ini tidak ada yang mau menanggung kalau kapal masuk Selat Hormuz,” kata Havas kepada wartawan, Jumat (12/6).
Ia menjelaskan, keputusan kapal untuk berlayar tidak hanya ditentukan oleh pemerintah, tetapi juga melibatkan sejumlah pihak lain seperti perusahaan asuransi, kapten kapal, hingga pemilik muatan (cargo owner).
“Banyak sekali kapal yang tidak mau jalan karena memang asuransinya tidak mau meng-cover. Kemudian ada keputusan kapten terkait keselamatan kapal, lalu cargo owner juga harus mempertimbangkan risiko. Semua faktor itu harus sejalan,” ujarnya.
Havas mengatakan pemerintah Indonesia terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah negara terkait dan organisasi internasional, guna memantau perkembangan situasi di Selat Hormuz.
Namun demikian, menurutnya, persoalan asuransi tetap menjadi kendala utama yang tidak mudah diselesaikan melalui jalur diplomasi semata.
“Kalau hubungan dengan pemerintah, diskusi dengan berbagai pihak termasuk di level internasional terus dilakukan. Tapi persoalannya juga ada pada asuransi. Posisi mereka jelas, selama kapal hanya parkir masih di-cover. Tetapi begitu masuk ke selat yang dianggap berisiko tinggi, asuransi langsung tidak mau menanggung,” jelasnya.
Ia menambahkan, berdasarkan informasi yang diperolehnya dari pelaku industri pelayaran dan praktisi hukum maritim internasional, keputusan pelayaran di wilayah konflik selalu mempertimbangkan dua hal utama, yakni perlindungan asuransi dan kesediaan pemilik kargo menanggung risiko.
“Kadang ada kasus asuransi mau menanggung, tetapi cargo owner-nya tidak mau mengambil risiko. Jadi industri kapal itu tidak sederhana, banyak elemen yang harus satu arah,” katanya.
Sebagai gambaran, Havas menyinggung dampak serangan kelompok Houthi di kawasan Selat Bab el-Mandeb yang menyebabkan lalu lintas kapal menuju Terusan Suez merosot tajam.
“Dulu sekitar 2.600 kapal per hari, sekarang tinggal sekitar 500. Banyak kapal akhirnya memilih memutar lewat Afrika Selatan untuk menuju Asia,” ujarnya.
Akibat pengalihan rute tersebut, biaya logistik global meningkat signifikan. Havas menyebut setiap kapal dapat menanggung tambahan biaya antara 1 juta hingga 3 juta dolar AS, belum termasuk waktu pelayaran yang lebih panjang. (disway/c1/yud)
