Fokus pembuktiannya pun harus merujuk pada kapan Teluk Betung pertama kali berdiri sebagai suatu entitas pemerintahan atau permukiman. Sehingga, dapat diperoleh penetapan hari jadi benar-benar bertumpu pada rekonstruksi sejarah yang matang dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sebab, dalam banyak kasus, penetapan hari jadi daerah sering kali tidak sepenuhnya berangkat dari pertimbangan akademis, melainkan hanya sebagai instrumen legitimasi untuk memenuhi kebutuhan simbolik dan politis.Tanggal yang dipilih kemudian lebih berfungsi untuk membangun narasi kebesaran masa lalu daripada menjelaskan sejarah sebagaimana adanya. Dalam konteks itulah penetapan hari jadi suatu kota perlu terus dikaji dan dievaluasi melalui pembacaan yang lebih kritis.
Karena itu, memperingati hari jadi Bandar Lampung semestinya tidak berhenti pada seremoni tahunan belaka. Peringatan tersebut mestilah dijadikan sebagai momentum untuk membuka ruang diskusi yang lebih luas guna merefleksikan asal-usul kota ini, sekaligus mendorong lahirnya penelitian-penelitian baru mengenai sejarah Bandar Lampung.
Sebab, ketiadaan atau minimnya arsip mengenai sejarah Bandar Lampung, ditambah keengganan untuk terus menggali dan menelitinya, akan membuat kota ini kehilangan pijakan historisnya—ibarat rumah megah tak berfondasi.
Akhir kalam, ada baiknya kita kenang aforisme Franz Kafka, “Mulailah sesuatu dengan latar belakang yang benar daripada dengan hal yang bisa diterima.”. (*)