Memasuki 26 Juni 2026, aktivitas tersebut kembali meningkat. Asap kawah teramati berwarna kelabu
dengan kandungan abu vulkanik tipis yang mengarah ke barat hingga barat laut. Kondisi ini turut
terpantau melalui satelit yang dioperasikan Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin, Australia.
Badan Geologi menjelaskan peningkatan aktivitas magmatis di permukaan dapat menjadi indikasi awal
menuju erupsi. Apabila erupsi terjadi, potensi bahaya yang mungkin muncul meliputi awan panas, aliran
lava, lontaran material pijar, hingga hujan abu di sekitar gunung.
Meski demikian, hingga laporan tersebut diterbitkan, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada
Level II (Waspada) dan belum mengalami peningkatan ke level yang lebih tinggi.
Seiring meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau, masyarakat diimbau tetap tenang dan mengikuti
perkembangan informasi yang disampaikan Badan Geologi maupun instansi terkait. Warga juga diminta
mematuhi rekomendasi yang berlaku serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum
terverifikasi. (detik/c1/abd)