Prabowo menilai peluncuran B50 menjadi tonggak penting dalam perjalanan Indonesia menuju kemandirian energi sekaligus memperkuat ketahanan nasional. "Ini adalah tonggak yang penting dalam perjalanan menuju kemandirian energi," ujarnya.
Prabowo menjelaskan kelangsungan hidup suatu bangsa sangat ditentukan oleh kemampuannya memenuhi tiga kebutuhan utama, yakni pangan, energi, dan air.
"Kelangsungan hidup suatu bangsa antara lain ditentukan oleh tiga hal. Pertama, mampukah bangsa itu menghasilkan pangan untuk rakyatnya. Kedua, mampukah bangsa itu memiliki sumber energi sendiri dan tidak tergantung pada bangsa lain. Ketiga, mampukah negara itu memiliki sumber air," tutur Prabowo.
Ia mengatakan, ketiga aspek tersebut telah lama menjadi perhatian dunia karena menentukan daya tahan dan kedaulatan sebuah negara.
"Pangan, energi, dan air telah dicanangkan oleh PBB dan hampir semua pakar peradaban manusia menyadari bahwa tanpa tiga hal ini, suatu bangsa akan sulit bertahan, sulit berdaulat, serta sulit mencapai kesejahteraan dan kemakmuran," katanya.
Prabowo juga menyinggung capaian pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan. Menurutnya, target yang semula diperkirakan tercapai dalam empat tahun berhasil diwujudkan hanya dalam waktu satu tahun.
"Alhamdulillah kita sudah buktikan bahwa kita mampu mengamankan dan menghasilkan pangan untuk rakyat. Kita sudah swasembada pangan. Dari target empat tahun, berhasil dalam satu tahun," ujarnya.
Peluncuran B50 merupakan bagian dari strategi pemerintah mempercepat transisi energi hijau, memperkuat ketahanan energi nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil melalui pemanfaatan biodiesel berbahan baku minyak sawit. Program mandatori B50 juga telah mulai diterapkan secara nasional sejak 1 Juli 2026.
Sementara, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan B50 bukan sekadar perpaduan bahan bakar fosil dan nabati. Melainkan, keyakinan pemerintah untuk mengambil keputusan agar Indonesia bisa berdiri di atas sumber dayanya sendiri.
"B50 bukan sekadar perpaduan bahan bakar fosil dan nabati. B50 adalah perpaduan antara keberanian mengambil keputusan, keberpihakan kepada rakyat, dan keyakinan bahwa Indonesia mampu berdiri di atas sumber dayanya sendiri," kata Bahlil saat peluncuran B50 di Karawang, Kamis, 9 Juli 2026.
Ia menjelaskan implementasi B50 akan dilakukan melalui masa transisi selama dua bulan. Saat ini, sekitar 56 persen konsumsi solar nasional telah menggunakan B50, sementara sisa pengguna B40 akan beralih secara bertahap hingga seluruhnya menggunakan B50.
"Transisi dua bulan saja. Sekarang itu sudah dipakai 56 persen dari total solar yang sudah jalan. Nanti dua bulan B40-nya habis, dua bulan transisi, semuanya sudah pakai B50," ujarnya.
