Konsumsi Protein Hewani Warga Lampung Masih Rendah, Ini Tiga Penyebab Utamanya

Konsumsi Protein Hewani Masih Jadi PR
Prima Imansyah Permana - Kamis, 09 Jul 2026 - 21:43 WIB
DKPTPH Lampung menyebut faktor ekonomi, rendahnya literasi gizi, dan pola makan yang belum seimbang menjadi penyebab utama rendahnya konsumsi protein hewani masyarakat.
DKPTPH Lampung menyebut faktor ekonomi, rendahnya literasi gizi, dan pola makan yang belum seimbang menjadi penyebab utama rendahnya konsumsi protein hewani masyarakat. - FOTO IST

Follow Us:

Google News Radar Lampung Radar Lampung WhatsApp Channel
Advertisements

BANDAR LAMPUNG – Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DKPTPH) Lampung mengidentifikasi tiga faktor utama yang menyebabkan tingkat konsumsi protein hewani masyarakat di provinsi ini masih tergolong rendah dibandingkan daerah lain di Indonesia.

Berdasarkan data tahun 2025, rata-rata konsumsi protein hewani masyarakat Lampung tercatat 15,62 gram per kapita per hari. Angka tersebut menempatkan Lampung sebagai provinsi dengan konsumsi protein hewani terendah kelima secara nasional.

Kepala DKPTPH Provinsi Lampung Elvira Umihanni mengatakan rendahnya konsumsi protein hewani dipengaruhi oleh kondisi ekonomi masyarakat, minimnya pemahaman mengenai pentingnya protein bagi kesehatan, serta pola konsumsi pangan yang belum seimbang.

"Pertama adalah faktor ekonomi atau kemiskinan. Kedua, literasi masyarakat tentang pentingnya protein bagi kesehatan, pertumbuhan, dan kecerdasan anak masih rendah. Ketiga, pola makan masyarakat masih didominasi nasi, sementara konsumsi sumber protein belum memadai," kata Elvira
kepada Radarlampung.co.id, Kamis (9/7/2026).

Advertisements

Menurutnya, persoalan tersebut menjadi perhatian serius karena kecukupan protein hewani berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang anak sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Sebagai upaya mengatasinya, Pemerintah Provinsi Lampung terus menjalankan berbagai program, mulai dari peningkatan daya beli masyarakat, pengendalian inflasi agar harga pangan tetap stabil, penguatan ketahanan pangan keluarga melalui pemanfaatan pekarangan, hingga edukasi pola konsumsi Beragam,
Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA).

Selain itu, DKPTPH juga menggandeng Tim Penggerak PKK untuk memperkuat ketahanan pangan rumah tangga sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

"Kami bersinergi dengan PKK untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus meningkatkan literasi masyarakat mengenai pola konsumsi B2SA," ujarnya.

Advertisements

Elvira menambahkan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah pusat diyakini akan memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan konsumsi protein hewani, terutama bagi anak- anak usia sekolah.

Ia menjelaskan, untuk mendukung terwujudnya Generasi Emas Indonesia, kebutuhan protein hewani harus dipenuhi melalui pola makan yang menerapkan prinsip B2SA. Artinya, sumber karbohidrat tidak hanya bergantung pada nasi, tetapi juga harus diimbangi dengan protein, vitamin, dan mineral sesuai kebutuhan serta dipastikan aman dikonsumsi.

DKPTPH Lampung menargetkan konsumsi protein hewani masyarakat terus meningkat dalam beberapa
tahun mendatang. Dengan dukungan Program MBG dan melimpahnya potensi sumber protein hewani

di Lampung, konsumsi protein ditargetkan bertambah sekitar 1 hingga 2 gram per kapita per hari setiap
tahun hingga mencapai sasaran pada 2029.

Advertisements

Share:
Editor: Agung Budiarto
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements
Yamaha

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements