BANDARLAMPUNG – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung mulai memperluas penerapan Pupuk Hayati Cair (PHC) sebagai salah satu strategi meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menekan biaya produksi petani.
Inovasi berbasis mikroorganisme lokal tersebut diklaim mampu mempercepat masa panen, meningkatkan kualitas hasil pertanian, hingga mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
Upaya tersebut dibarengi dengan penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui bimbingan teknis bagi para penyuluh dan pendamping pertanian agar penggunaan PHC dapat diterapkan lebih luas di tingkat petani.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan keberhasilan program PHC tidak hanya bergantung pada teknologinya, tetapi juga pada peran penyuluh yang menjadi ujung tombak pendampingan di lapangan.
"Program ini sangat penting, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana nilai dan manfaat Pupuk Hayati Cair dapat ditransfer kepada para pendamping dan penyuluh. Program ini tidak akan berhasil tanpa dukungan teman-teman di lapangan yang bersentuhan langsung dengan petani," kata Mirza.
Menurutnya, sektor pertanian masih menjadi penopang utama ekonomi Lampung dengan kontribusi sekitar 30 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
Tiga komoditas utama, yakni padi, jagung, dan singkong, menjadi sumber penghidupan sekitar lima juta penduduk Lampung.
Karena itu, peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha tani dinilai menjadi kunci menjaga pertumbuhan ekonomi daerah. Salah satunya melalui pemanfaatan PHC yang mampu menekan penggunaan input produksi.
"Target kita seluruh petani teredukasi menggunakan bahan organik cair secara mandiri. Mereka bisa membuat sendiri, menggunakan sendiri, dan menikmati nilai tambah keuntungannya secara langsung," ujarnya.
Komitmen tersebut mulai diterapkan pada sektor perkebunan. Saat meninjau Kebun Induk Hanakau milik UPTD Balai Benih dan Kebun Induk (BBKI) Dinas Perkebunan Provinsi Lampung di Pekon Hanakau, Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat, Gubernur melihat langsung penerapan PHC pada tanaman kopi.
Di kebun percontohan tersebut, PHC dibuat dari bahan-bahan ramah lingkungan seperti limbah kelapa, limbah kedelai, dan air cucian beras yang difermentasi menggunakan mikroorganisme lokal.
Berdasarkan hasil uji coba yang telah dilakukan sejak 2025 pada lahan seluas dua hektare, penggunaan PHC menunjukkan hasil yang cukup signifikan dibandingkan tanaman yang tidak mendapat perlakuan serupa.
