Ia mengaku telah menghabiskan lebih dari empat dekade hidup di wilayah tersebut dan masih memiliki keluarga inti yang bertahan di tengah konflik.
Menurutnya, bantuan dari Indonesia sekecil apa pun memiliki arti besar bagi rakyat Palestina. Ia bahkan mengungkapkan bahwa keluarganya kerap menyimpan bantuan makanan dari Indonesia sebagai simbol harapan.
Ia juga memaparkan kondisi di Gaza yang masih dilanda krisis berkepanjangan, mulai dari keterbatasan pangan, pembatasan akses, hingga kerusakan infrastruktur.
“Kami mungkin kehilangan banyak hal, bahkan rumah kami dihancurkan, tetapi kami tidak kehilangan harapan untuk merdeka,” ujarnya.
Abdalfatah turut mengapresiasi konsistensi Indonesia dalam mendukung Palestina di berbagai forum global, termasuk melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta peran aktif dalam advokasi hak asasi manusia.
Di bidang pendidikan, ia mengakui besarnya kontribusi Indonesia melalui program beasiswa, meski di sisi lain mahasiswa dari Gaza masih menghadapi kendala keluar wilayah akibat penutupan perbatasan.
Menanggapi tawaran kerja sama dari Pemprov Lampung, Abdalfatah menyatakan kesiapan penuh untuk menjembatani hubungan pelaku usaha kedua pihak.
Ia menilai kolaborasi ekonomi dapat menjadi salah satu solusi dalam mendorong kemandirian rakyat Palestina.
“Jika ada peluang kerja sama, kami siap memfasilitasi dan menghadirkan pengusaha Palestina untuk berkolaborasi,” katanya.
Pertemuan ini menegaskan posisi Lampung sebagai daerah yang tidak hanya fokus pada pembangunan internal, tetapi juga aktif menunjukkan kepedulian global melalui diplomasi kemanusiaan.
Mirza berharap kolaborasi yang dibangun dapat memberikan manfaat nyata bagi rakyat Palestina. “Ketika mereka berkembang di sini, dampaknya juga akan kembali membantu saudara-saudara mereka di Palestina,” pungkasnya. (pip/yud)