Mereka hanya ingin ditemani ketika bermain, dipeluk ketika menangis, dan didengar ketika bercerita, meski cerita itu sering kali hanya tentang super hero yang sedang berkelahi atau mobil-mobilan yang kehilangan satu rodanya.
Dari merekalah kita belajar kembali tentang kebahagiaan yang sederhana.
Ya, mungkin ada kebetulan yang terasa seperti takdir. Ada pula momen yang seolah menjadi pesan bagi kami orang tua agar berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, lalu melihat lebih dekat wajah masa depan.
Tiga tahun lalu, tangisan pertama Faqih (kamu memanggilnya) menjadi suara yang mengubah banyak hal.
Waktu yang dulu terasa begitu panjang kini melesat tanpa terasa. Langkah-langkah kecilnya yang dulu masih tertatih kini berubah menjadi larian-larian kecil memenuhi rumah.
Kata-kata yang dahulu hanya berupa ocehan kini menjadi pertanyaan-pertanyaan sederhana yang sering kali justru membuat kami berpikir lebih dalam.
Anak memang memiliki cara unik mengajarkan kehidupan.
Di usia tiga tahun, dunia adalah ruang bermain yang tak berbatas. Kardus bisa menjadi kapal. Sendok menjadi mikrofon. Bahkan, tubuh kita pun menjadi kendaraan.
Kamar dan Halaman rumah berubah menjadi hutan petualangan. Imajinasi mereka melampaui apa yang mampu dipikirkan oleh kami.
Yang kami tahu hanya mengenal cinta dan kasih sayang.
Hari Anak Nasional seharusnya tidak berhenti menjadi acara tahunan yang dipenuhi spanduk dan pidato.
Lebih dari itu, hari ini seharusnya menjadi refleksi bersama tentang seperti apa lingkungan yang sedang kita bangun untuk generasi mendatang.
